TOLERANSI DAN KONSTITUSI

Kata TOLERANSI semakin lama semakin sering terdengar.  Kata ini utamanya digunakan dalam hubungan antar umat beragama yang berbeda.

Ketika sekelompok orang dari keyakinan yang berbeda ikut terlibat dalam suatu keyakinan lain,maka tindakannya dianggap sebagai bagian dari toleransi. Bagi yang tidak mau terlibat, meskipun hanya dengan ucapan, maka orang tersebut di-cap sebagai tidak toleran.

Kata TOLERANSI sering diartikan secara gampang sebagai “kebersamaan, hidup akur, hidup berdampingan secara damai dan lain-lain kata manis lainnya.

Kata TOLERANSI seakan menjadi pedang yang siap membabat habis siapa saja yang tidak sejalan dengan semangat kebersamaan dan hidup berdampingan.

Lalu bagaimana sebenarnya makna TOLERANSI itu?

Dalam bahasa Inggris menurut kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 7th edition, 2005, kata toleransi  adalah (1) “toleration” (synonym = “tolerance” [noun]) yaitu: “a willingness to allow something that you do not like or agree with to happen or continue”. (2) “Tolerant” [adjective] yaitu: “able to accept what other people say or do even if you do not agree with it”. Kata kerjanya adalah “tolerate” yaitu: “to allow somebody to do something that you do not agree with or like”. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, terbitan Balai Pustaka, (1) “toleran” [adjektiva] adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”. (2) “toleransi” [nomina/kata benda] adalah sifat atau sikap toleran; (3) “bertoleransi” [verba/kata kerja] adalah bersikap toleransi; (4) “mentoleransi” [verba/kata kerja] adalah mendiamkan, membiarkan.

Dalam bahasa Arab, toleransi disebut “ikhtimal, tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha – yasmuhu – samhan, wasimaahan, wasamaahatan, artinya: murah hati, suka berderma) (kamus Al Munawir hal 702).

Jika kita mengacu pada pengertian sebagaimana dimaksud dalam kamus-kamus tersebut di atas maka makna dari toleransi khususnya toleransi beragama adalah menghargai keyakinan orang lain, membiarkan orang lain untuk meyakini dan mengamalkan agamanya meskipun keyakinan orang lain tersebut berbeda dengan keyakinan kita.

Toleransi beragama berdasarkan makna yang benar sama sekali tidak mengandung pengertian adanya keterlibatan seseorang dalam urusan agama orang lain.

Jadi, ketika ada perayaan agama lain, misalnya Natal, maka sikap Toleransi adalah menghargai keyakinan pemeluk Kristen, membiarkan pemeluk Kristen untuk meyakini dan mengamalkan agamanya meskipun keyakinan pemeluk Kristen tersebut berbeda dengan keyakinan kita. Dengan demikian, seorang pemeluk agama selain Kristen yang tidak ikut merayakan Natal (tidak menghadiri perayaan atau tidak mengucapkan selamat Natal) tidak dapat disebut Tidak Toleran.

Justru sebaliknya, orang diluar Kristen yang tidak ikut merayakan dan tidak mengucapkan selamat Natal telah bersikap toleran yaitu dengan membiarkan pemeluk Kristen untuk meyakini dan mengamalkan agamanya meskipun keyakinan pemeluk Kristen tersebut berbeda dengan keyakinan orang yang tidak ikut merayakan.

Dalam konteks berbangsa dan bertanah air, orang yang tidak ikut merayakan atau mengucapkan selamat perayaan agama lain, lalu membiarkan pemeluk agama lain untuk meyakini dan mengamalkan agamanya tersebut, selain telah bersikap toleran, juga dijamin hak-haknya meyakini keyakinannya.

Seorang Muslim yang tidak ikut merayakan atau mengucapkan selamat Natal, lalu membiarkan pemeluk Kristen untuk meyakini dan merayakan Natal, selain telah bersikap toleran, juga dijamin hak-haknya meyakini keyakinannya.

Jika ada seorang Muslim yang meyakini bahwa merayakan dan mengucapkan selamat atas perayaan agama lain adalah Haram, maka keyakinan ini harus dihargai. Bahkan keyakinan terbut juga dijamin oleh konstitusi.

Pasal 28E UUD 1945

(1)  Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali.

 (2)  Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya.

 (3)  Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

 

Pasal 29 UUD 1945

 (1)  Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2)  Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu.

Bagaimana dengan membangun kerukunan umat beragama?

Membangun kerukunan antar umat beragama tidak harus diwujudkan dalam bentuk mengikuti perayaan agama lain. Cukup dengan membiarkan pemeluk agama lain beribadah sesuai agamanya masing-masing adalah wujud nyata dari membangun kerukunan.

Selain itu dengan bersama-sama membangun ekonomi bangsa tanpa korupsi, menghilangkan diskriminasi berdasarkan agama dalam lapangan kerja dan jabatan, juga wujud kerukunan umat beragama.

Jadi, jika berbicara masalah kerukunan, maka kerukunan tersebut harus ditempatkan dalam bingkai urusan duniawi, saling tolong menolong dalam hal kebaikan.

Pada akhirnya, kita harus menjadi bangsa yang besar, bangsa yang maju, bersatu dalam masalah duniawi antar semua pemeluk agama, tetapi tetap menjaga dan menghormati keyakinan agama masing-masing.

Wallahu  a’lam

Ismail Marzuki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s