Meremehkan Ulama (Membela Irshad Manji dan Lady Gaga, menyalahkan Ulama)

Hari-hari belakangan ini media gencar memuat berita mengenai penentangan terhadap kegiatan Irshad Manji dan pembatalan konser Lady Gaga. Sekadar info singkat, Irshad Manji adalah perempuan berkewarganegaraan Kanada, yang menyebut dirinya muslimah lesbian. Kedatangannya di Indonesia dalam rangka diskusi dengan tema “Agama, kebebasan, dan Keberanian Moral. Kedua perempuan tersebut ditentang aktivitasnya di Indonesia oleh ulama dan umat Islam.

Ulama, ketika menyampaikan fatwa tentunya berpedoman pada Alquran dan As-sunnah dan dengan bekal ilmu.

Saya tidak mau berpolemik tentang apa dan bagaimana musiknya Lady Gaga berikut aksi panggungnya. Yang ingin saya tekankan adalah bagaimana kita menyikapi fatwa ulama.

Berbicara tentang halal atau haram, adalah otoritas ulama. Ulama, dengan ilmunya, memiliki kompetensi untuk menilai sesuatu itu halal atau haram, dan berkewajiban menjaga umat dari segala kemungkinan penyimpangan dalam menjalani kehidupan. Jadi ketika ulama mengatakan bahwa aktivitas Irshad Manji atau Lady Gaga bisa merusak umat atau melanggar syariat, maka sebagai orang awam (bukan ulama) sudah sepatutnya kita mengikuti pendapat ulama.

Sayang sekali, di Indonesia ini ada segelintir orang sombong yang merasa dirinya lebih ahli dalam masalah Islam dibandingkan ulama. Tokoh politik, artis, media dan lain-lain kompak membela Irshad Manji dan Lady Gaga dengan senjata utama mereka “Hak Asasi Manusia”.

Bahkan ada juga orang-orang yang menyalahkan ulama dan membela Irshad Manji dan Lady Gaga. Sombong itu berarti menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Meremehkan ulama berarti masuk dalam kriteria sombong. Menolak kebenaran yang disampaikan ulama dimana kebenaran tersebut berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah juga bagian dari sombong. Yang lebih menyedihkan adalah ketika pendapat ulama dilawan dengan menggunakan argumentasi berdasarkan pendapat para pemikir kafir, yang ujung-ujungnya adalah Hak Asasi Manusia.

Satu hal yang harus dilakukan ketika seseorang akan meremehkan ulama adalah menjawab beberapa pertanyaan ini terlebih dahulu, antara lain: sudah berapa ribu hadits telah dihafal? Sudah berapa kitab-kitab dikuasai? Bagaimana dengan ilmu bahasa arabnya? Bagaimana sholat malamnya?

Jika hati ingin bersih, hilangkan kesombongan. Jangan remehkan ulama, jangan menolak kebenaran.

Wallahu a’lam bishshowab

Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s