JANGAN MEMVONIS BURUK ORANG LAIN

 JANGAN MEMVONIS BURUK ORANG LAIN

Suka atau tidak suka kadang muncul pikiran dalam diri kita untuk menilai sikap orang lain, bahkan kadang penilaian kita menjadi berlebihan sehingga penilaian berubah menjadi vonis mematikan.

Kadang tanpa kita sadari kita memberikan penilaian buruk pada orang lain. Misalnya suatu ketika kita mengundang teman kita untuk hadir dalam suatu pertemuan membahas masalah-masalah sosial kemasyarakatan atau mungkin masalah agama. Pada hari pelaksanaan pertemuan, teman kita tidak hadir tanpa alasan yang dapat memuaskan kita. Disinilah letak bahayanya jika kita tidak mampu menjaga hati. Bisikan-bisikan halus dalam hati kita dengan serta merta menuduh bahwa teman kita itu malas, hati kita menggumam “ahh…kalau dia sudah dari dulu begitu, malas…cari-cari alasan”. Atau muncul gumaman lain, “kalau nonton bola rajin, tapi kalau ngaji ada aja alasannya supaya nggak datang“.

Lagi-lagi ini tentang hati. Kita tidak pernah bisa memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada teman kita yang tidak hadir. Dengan memvonis “malas” atau sebutan buruk lainnya pada teman kita, secara tidak langsung kita telah menilai diri kita lebih baik dari teman kita, dan bahaya kesombongan menanti di ujung mata kita.

Dengan menjaga hati, akan lebih baik jika kita berpikir positif atas ketidakhadiran teman kita. Mungkin teman kita sedang sakit, mungkin isteri atau anaknya sedang sakit, mungkin sedang ada masalah pekerjaan, mungkin sedang ada tamu penting yang tidak bisa ditinggal. Sangat banyak alasan yang bisa kita kemukakan untuk mencegah keluarnya vonis negatif pada teman kita.

Daripada kita sibuk memberikan tuduhan buruk kepada teman kita, lebih baik kita berpikir positif sambil mendoakan semoga teman kita tidak sedang menghadapi masalah berat dan semoga masalah yang dihadapi teman kita segera teratasi. Dengan berpikit positif terhadap teman kita, hati kita menjadi ringan dan tidak disibukkan untuk mencari kesalahan orang lain.

Akan tetapi, hal ini tidak berlaku buat diri kita sendiri. Ketika kita menerima undangan pertemuan seperti itu, jangan kita “kasihani” diri kita. Karena kita malas datang, kita jangan mencari-cari alasan agar tidak datang, untuk diri sendiri jangan gunakan alasan “ ahh saya sedang pusing, nggak usah datang pertemuan”, padahal pusingnya itu kita buat-buat sendiri supaya tidak hadir di pertemuan. Atau karena ada tamu kita menggunakan tamu sebagai tameng sehingga tidak hadir, padahal kita bisa atur waktu dengan baik dengan sang tamu.

Jadi, tetap berpikir positif terhadap orang lain dan jangan kasihani diri sendiri dalam kebaikan.

Wallahu a’alam bishshowab

Ismail Marzuki

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s