Subhanallah, ada “insya Allah” di Garuda

Kali ini saya akan bercerita tentang suatu pengalaman kecil tapi cukup berkesan buat saya dilihat dari sudut spiritual. Suatu pengalaman tentang kalimat “Insya Allah”. Sudah lima tahun belakangan ini hampir setiap pekan saya melakukan perjalanan dinas ke luar kota dengan Garuda Indonesia.

Pilihan terbang dengan Garuda bagi saya alasannya hanya satu, profesionalisme yang ada pada Garuda. Ketepatan waktu penerbangan menjadi salah satu alasan saya memilih Garuda, meskipun kadang tidak jarang terjadi delay. Dalam dunia penerbangan sudah biasa jika pilot mengumumkan kepada penumpang perkiraan jarak tempuh dan perkiraan mendarat pesawat di bandara tujuan. Dalam lima tahun belakangan yang selalu saya dengar adalah kalimat yang bunyinya kira-kira seperti ini: “Penumpang yang kami hormati, penerbangan kita akan menempuh waktu 2 jam dan kita akan mendarat pada pukul 17 WIB”. Sebagai penumpang, selama lima tahun ini saya menganggap kalimat seperti itu menunjukkan sikap profesional para kru pesawat yang benar-benar menghargai waktu dan menghargai janjinya kepada penumpang. Hingga akhirnya pada sekitar Januari 2012, saya benar-benar tersentak dan seakan terbangun dari tidur panjang selama lima tahun ketika terdengar suara pilot mengumumkan waktu penerbangan. Ada kata “yang asing” yang saya dengar dari pilot, kata yang lain dari biasanya, tetapi justru kata asing ini mampu membangkitkan kesadaran saya akan arti diri sebagai manusia biasa. “Kata asing” itu adalah kata “INSYA ALLAH’. Pada penerbangan Januari 2012 tersebut, dalam penerbangan Garuda saya mendengar kata “Insya Allah” diucapkan pilot. Saya lupa tanggal tepatnya penerbangan itu, juga nomor penerbangan, antara GA 603 atau GA 607, keduanya route Manado ke Jakarta. Saya tidak hafal persis kalimat utuhnya, kira-kira pilot mengatakan begini: “Penumpang yang kami hormati, kita akan menempuh penerbangan dalam waktu 3 jam 10 menit, dan akan mendarat di Jakarta INSYA ALLAH pada pukul 8.30 WIB”. Yang saya garis bawahi adalah kata INSYA ALLAH. Kenapa kata INSYA ALLAH yang diucapkan pilot begitu berkesan buat saya? Selama ini kita sering menyalahgunakan kata INSYA ALLAH hanya untuk menutup-nutupi keinginan kita yang sebenarnya bahwa kita tidak akan memenuhi janji kita. Misalnya ketika kita enggan datang ke suatu pertemuan, dengan mudah kita katakan “insya Allah saya akan datang” padahal dalam hati kita sebenarnya kita sudah berniat tidak akan datang . Ketika teman kita mempertanyakan ketidakhadiran kita, dengan mudah klita berkelit dengan mengatakan: “lohhh kan saya sudah bilang insya Allah”. Contoh perbuatan yang menyalahgunakan kata INSYA ALLAH seperti itulah yang membuat kata INSYA ALLAH kehilangan makna di masyarakat bahkan bagi muslim sekalipun. Akhirnya makna kata INSYA ALLAH di mata manusia menjadi rendah dan orang yang mengucapkannya dianggap orang yang tidak akan mampu menepati janji. Akan tetapi ketika kata INSYA ALLAH diucapkan pilot Garuda, saya meyakini kata tersebut diucapkanoleh pilot dengan kesungguhan dan pengertian yang mendalam atas arti kata tersebut. Saya meyakini bukan karean saya mampu membaca isi hati sang pilot, karena hanya Allah semata yang mengetahui isi hati manusia. Saya meyakini kesungguhan pilot karena saya yakin Garuda adalah perusahaan besar yang tidak akan main-main dengan janji dan ketepatan waktu, sehingga ketika kata INSYA ALLAH terdengar dari pilot, itu bukan berarti bahwa pilot atau Garuda akan menghindari dari tanggung jawab ketika pada akhirnya pesawat terlambat mendarat . Dan saya yakin sebagai perusahaan besar, ketika pesawat telat mendarat pilot Garuda tidak akan mengatakan “Lohh saya kan sudah bilang INSYA ALLAH akan mendarat jam 8.30 WIB!!” Kata INSYA ALLAH yang diucapkan pilot tersebut sangat berkesan buat saya dan menyadarkan kembali bahwa betapapun hebatnya manusia merencanakan sesuatu, keputusan akhir tetap ada pada Allah. Allah-lah yang menentukan apa yang akan terjadi dalam kehidupan ini, bukan manusia. Manusia tidak dapat memastikan bahwa sesuatu benar-benar pasti akan terjadi. Kata INSYA ALLAH juga menunjukkan kelemahan kita selaku manusia dan menghilangkan kesombongan kita di hadapan Allah. Bayangkan, betapa sombongnya manusia ketika berjanji, ketika merencanakan sesuatu, seakan-akan manusia itu sendirilah yang memiliki kekuasaan untuk menentukan jadi atau tidaknya rencana tersebut. Jangankan rencana jangka panjang, sebagai manusia kita tidak akan pernah tahu ke arah mana wajah kita akan menghadap dalam satu jam kedepan. Ketika gelar dan sebutan profesional telah melekat pada diri kita seakan-akan kita mampu mewujudkan semua rencana matang kita. Kita malu mengucapkan INSYA ALLAH, karena dalam diri kita telah tertanam anggapan salah bahwa INSYA ALLAH hanya cocok diucapakn di masjid dan majelis ta’lim, hanya cocok diucapkan ustadz, bahwa INSYA ALLAH hanya menunjukkan kelemahan seorang profesional. Sudah seharusnya kita selalu mengucapkan INSYA ALLAH ketika merencanakan sesuatu. Bahkan Allah telah mengingatkan dan memerintahkan kita dalam QS Al Kahfi (18) ayat 23-24, yang artinya: “dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”… “. Dengan menyebut INSYA ALLAH, siapapun kita, apapun jabatan kita, maka kita telah benar-benar mengakui bahwa Allah-lah yang memiliki keputusan atas semua rencana kita dan kita benar-benar telah menjadi manusia yang menyadari posisinya sebagai hamba. Wallahu a’lam bish showab Bekasi, 4 Februari 2012 Malam minggu menjelang Adzan Isya Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s