Kamu lagi Galau Yaaa..???

Kamu lagi Galau Yaaa..???

Pernah dengar GEGANA?  Untuk menjadi anggota GEGANA rasanya sangat sulit sekali. Butuh fisik yang kuat, mental baja dan kemauan keras untuk menjadi anggota gegana. Sekarang, syarat-syarat yang ngejelimet tidak dibutuhkan, karena kapan saja, dimana saja, siapa saja bisa menjadi anggota gegana. Loohhh, ko bisa yaa????

Kalau Gegana yang membutuhkan persyaratan ketat adalah pasukan gegana kebanggan milik kepolisian kita, yang salah satu keahliannya menjinakan bom. Tapi gegana yang sama sekali tidak butuh persyaratan usia, jenis kelamin dan tidak mengenal waktu adalah singakatan dari Gerakan Galau Nasional. Nah, istilah apalagi ini. Yang pasti istilah gegana yang satu ini tidak ada hubungannya dengan pasukan kepolisian. Istilah yang sekarang sedang populer ini tepatnya buat mereka yang sedang dilanda rasa galau. Bahkan bukan tidak mungkin singkatan ini juga muncul dari orang yang sedang galau.

Galau bisa menimpa siapa saja, tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, masih single atau sudah menikah, pekerja atau pelajar. Yang membedakan adalah penyebab dari galau itu sendiri. Bagi laki-laki atau perempuan single, galau bisa muncul dari urusan cinta diantara mereka. Bagi yang sudah menikah, galau bisa terjadi karena urusan domestik diantara suami isteri.  Bagi pekerja, galau muncul karena beban kerja yang tidak mampu ditangani. Bagi pelajar dan mahasiswa, galau bisa karena urusan pelajaran juga bisa karena cinta.

Galau itu apaan sih?  Menepis rasa penasaran, saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disana disebutkan salah satu arti dari kata galau adalah “kacau tidak karuan (pikiran)”.

Jadi kalau suatu saat saya menemukan ada orang yang sedang galau, artinya orang itu sedang kacau pikirannya, kira-kira begitulah. Pikiran yang kacau bisa timbul dari berbagai sebab, juga bisa menimpa siapa saja.  Pikiran yang kacau utamanya dipengaruhi oleh hati yang sedang tidak menentu, hati yang sedang mondar mandir mencari posisi yang tepat.

Kenapa hati yang jadi “tersangka”?  Hati bisa jadi faktor penyebab kacaunya pikiran, penyebab kegalauan, karena hati bisa menggerakkan keinginan kita berbuat sesuatu. Jika hati baik, maka baik pula seluruh tubuh, jika hati rusak maka rusak seluruh tubuh.

Ketika kita menghadapi suatu kenyataan yang berbeda dengan yang kita harapkan, saat itu pula hati akan terpengaruh. Durasi keterpengaruhan hati ini bisa berbeda pada setiap orang, bisa lama, bisa juga sebentar. Seorang laki-laki yang berharap mendapat cinta dari seorang perempuan, akan terpengaruh hatinya ketika dia tahu bahwa perempuan itu biasa-biasa saja tanggapannya.  Ketika perasaan kangen demikian hebat melanda dirinya, kekecewaan akan muncul saat orang yang dirindukannya ternyata tidak rindu pada dirinya. Hati bisa galau karena setiap Sabtu dan Ahad tidak bisa bertemu atau berkomunikasi dengan orang yang diinginkannya. Lohh kenapa Sabtu dan Ahad saja?? Karena kebetulan pasangannya kerja satu kantor dan Sabtu Ahad kantornya libur.

Hati juga bisa menjadi galau ketika hubungan yang dirasakan sudah nyaman oleh satu pihak, akhirnya harus direkonstruksi kembali karena berbagai sebab.  Hati yang tidak nyaman, mempengaruhi pikiran sehingga pikiran menjadi kacau, galau.

Galau bisa menerpa setiap orang, perbedaanya hanya pada berapa lama rasa galau itu hinggap pada masing-masing orang. Galau yang hanya beberapa saat masih bisa dimaklumi, tetapi jika rasa galau sudah sedemikian kuat dan berlama-lama pada seseorang, maka galau itu bisa berbahaya karena banyak hal akan terbengkalai dan kehilangan perhatian.

Bagaimana mengatasi rasa galau?

Saya bukan ahli urusan galau menggalau, tetapi saya memiliki pemahaman sederhana tentang bagaimana mengatasi rasa galau.

  1. Mengetahui faktor atau penyebab timbulnya rasa galau

Bagaikan seorang dokter, kita harus tahu terlebih dahulu penyebab sakit sebelum memberikan obat.

2. Yakinkan diri kita bahwa galau adalah kondisi pikiran yang kacau dan bukan solusi

Karena galau bukan solusi, maka setelah tahu penyebab galau, segera tinggalkan rasa galau. Yang paling penting   justru mencari solusi atas masalah yang kita hadapi. Berpikir dengan tenang tentang permasalahan yang muncul. Jika urusannya “hanya” tentang cinta, yakinlah bahwa cinta bukanlah segalanya dalam hidup ini, masih banyak hal yang membutuhkan perhatian kita.

3. Kembali kepada Pemilik Hati

Ya, hati kita ada pemiliknya yaitu Allah. Mengingat Allah selain kewajiban juga dapat menenteramkan hati. Dengan mengingat Allah berarti detik demi detik hati kita akan diisi dengan kebaikan dan ketenangan. Ketika sudah tenang, insya Allah jalan pikiran kita akan terarah dan tidak kacau lagi.

Jadi bagi siapa saja yang sedang galau, jangan pelihara kegalauan anda. Hilangkan galau itu segera karena masih banyak hal yang harus dikerjakan dengan pikiran lurus.

Wallahu a’lam bish showab

Manado, 16 Desember 2011

Ditulis dalam keadaan pikiran tenang, hati riang dan tidak galau. Kalau sedang galau, mana mungkin bisa menulis seperti ini.

Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s