Kalau Kau Jantan, Nikahi Aku !!!

Kalau Kau Jantan, Nikahi Aku !!!

 

Sabtu malam kemarin saya menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. Seperti biasa layaknya sebuah resepsi pernikahan, ada tawa, canda, bahkan mungkin juga ada rasa haru.  Saya termasuk orang yang menerima semua rasa yang ada dalam suatu acara pernikahan seperti itu, saya tertawa, bercanda, juga ada haru.

 

Menghadiri resepsi pernikahan bagi saya bagaikan membuka kembali catatan panjang tentang perjalanan hidup sepasang manusia yang pada akhirnya tiba pada suatu titik persamaan diantara pasangan tersebut, titik persamaan yang hanya bisa ditentukan oleh mereka yang menjalaninya. Titik persamaan yang mereka tentukan bukan tentang bertemunya banyak kesamaan atau seluruh kesamaan pada masing-masing pribadi pasangan, tetapi yang paling penting adalah titik persamaan ketika sepasang manusia telah sama-sama menemukan keberaniannya untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan.

 

Menikah butuh keberanian, bukan karena pernikahan itu sesuatu yang menakutkan, tetapi justru karena pernikahan itu sesuatu yang menyenangkan maka dibutuhkan tekad yang kuat dan keberanian yang cukup untuk menikah. Kita tidak akan pernah bisa menggapai kesenangandalam pernikahan jika kita gagal membangun keberanian dalam diri kita. Setiap kita memiliki watak kepribadian yang berbeda. Dibutuhkan keberanian untuk menyelaraskan watak, kesukaan dan kebiasaan masing-masing pasangan agar kesenangan pernikahan dapat diraih.  Dibutuhkan keberanian untuk siap tertatih-tatih dalam awal-awal pernikahan ketika dua hati yang berbeda harus bersama-sama hidup dalam satu nafas.

 

Kembali pada suasana resepsi pernikahan malam kemarin,  ketika saya melihat pengantin pria menerima ucapan dan jabat tangan para tamu undangan.  Walau tidak pernah terucap, jabatan tangan para tamu seakan-akan mewakili sebuah ucapan ringan tapi penuh arti, “selamat, mulai hari ini anda telah sempurna memasuki gerbang tanggung jawab sebagai seorang laki-laki”!!

 

Ya, menurut saya, pernikahan adalah sebuah tanggung jawab tertinggi bagi seorang laki-laki dalam hidup. Menjadi suami adalah menjadi orang yang siap dan harus bertanggung jawab. Menjadi suami berarti siap menjadi seorang ayah dan menjadi seorang ayah adalah suatu tanggung jawab.

 

Saya tidak banyak mengetahui tentang psikologi perempuan, karena bidang  saya memang bukan psikologi. Saya hanya tahu bahwa perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangannya butuh dicintai oleh laki-laki yang dicintainya.

Ketika bicara cinta kadang laki-laki terjebak oleh romantisme cinta yang dipertontonkan dalam film-film bertema cinta. Cinta yang demikian, biasanya tidak terlepas dari bunga mawar, kecupan di kening, bisikan “i love you” atau tambahan berlian sekali-sekali (kalau yang terakhir ini, belum pernah saya lakukan) . Dulu, kata-kata cinta mungkin via surat, sekarang bisa lewat sms dan bbm. Dan anehnya, ada laki-laki yang cukup merasa puas dan bangga dengan bentuk cinta yang seperti ini.

 

Dengan menebak-nebak (maaf karena saya tidak pernah melakukan penelitian) , saya yakin perempuan memang butuh cinta sebagaimana tayangan film romantis, tetapi ada makna cinta yang lebih dalam dibandingkan cinta yang hanya dipermukaan. Makna cinta yang terdalam dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan hanya bisa diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab.

 

Perempuan butuh laki-laki yang bertanggung jawab, karena tanggung jawab adalah bagian dari cinta.

 

Seorang perempuan butuh tangan suami yang bisa menjadi  tangan pertama yang membantunya disaat sang perempuan membutuhkan uluran tangan.

 

Seorang perempuan butuh telinga suami yang bisa menjadi telinga pertama yang mendengar  semua cerita yang keluar dari mulut sang perempuan.

 

Seorang perempuan butuh mulut suami yang akan menjadi mulut pertama yang menasihatinya, menegurnya jika sang perempuan keliru jalan, bukan hanya mengucap kata-kata cinta pemanis bibir.

 

Seorang perempuan butuh hati suami yang akan menjadi hati pertama yang bisa memahami keinginan sang perempuan ketika mulut tak lagi mampu berucap.

 

Seorang perempuan butuh kaki suami sebagai kaki pertama yang menemaninya menyusuri jalan berliku kehidupan.

 

Seorang perempuan butuh empati suami yang akan menjadi orang pertama yang berempati kepadanya ketika semua orang mungkin tidak memperhatikan sang perempuan.

 

Ya, seorang perempuan butuh semua itu dari suaminya. Jika suami gagal memberikan itu semua, bahaya mengancam rumah tangga, karena di luar banyak laki-laki yang siap mengulurkan tangan, memberikan telinga dan mulut, kaki, hati dan empati.

 

Semua keinginan perempuan itu hanya dapat diperoleh dari laki-laki yang memberikan cinta yang didalamnya berisi tanggung jawab.

 

Bagi teman-temanku perempuan yang belum menikah, satu hal yang harus diingat adalah tidak sulit mencari laki-laki yang bisa mengucapkan kata-kata cinta setiap detik, tidak sulit mencari laki-laki yang bersedia mengirimkan bunga setiap malam, tetapi carilah laki-laki yang siap bertanggung jawab.

 

Bagi seorang perempuan, ukuran mencari calon suami hanya dua yaitu ahlak dan agamanya. Jika dua syarat itu sudah ada, maka ajaklah dia menikah.  Jika laki-laki itu masih mengulur-ulur waktu, perlu dipertanyakan “kelelakiannya” .

 

Tantanglah laki-laki itu, “Kalau Kau Jantan, Nikahi Aku !!!”

 

Buat temanku yang menikah tgl 10 Desember 2011 kemarin, doa kami sekeluarga buat kamu dan suami “BAAROKALLAAHU LAKA, WA BAAROKA ‘ALAIKA  WA JAMA’A BAYNAKUMAA FII KHOIR” (semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu saat senang, semoga Allah memberikan keberkahan padamu saat kesusahan, dan semoga Allah mengumpulkan kalian dalam kebaikan)

 

Wallahu a’lam bish showab

 

Bekasi, 11 Desember 2011

Menjelang waktu Ashar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s