Perempuan, Kamu memang hebat….!!!!

Perempuan, Kamu memang hebat….!!!!

Jam menunjukkan pukul 3 pagi ketika alarm di HP berbunyi. Buat saya bunyi alarm jam 3 pagi tidak ada bedanya dengan teriakan komandan pasukan di telinga, keras dan ganas. Ada reaksi yang berbeda ketika sang alarm berbunyi, reaksi saya secepat kilat menekan tombol off lalu berusaha tarik selimut lagi, sedangkan perempuan yang tidur disebelah saya, siapa lagi kalau bukan isteri saya, dengan segera bangun dari mimpi indahnya. Peristiwa itu biasa terjadi senin dan kamis dinihari, diluar hari-hari itu jam bangun pagi agak molor sedikit, sekitar jam 4 atau 4.30.

Tulisan ini bukan tentang apa yang biasa kami lakukan di rumah. Sama sekali tidak ada keinginan buat mempublikasikan urusan internal rumah tangga ke area publik. Saya hanya sedang merenungkan kembali  tentang perempuan, mencoba mengenal lebih jauh perempuan, bukan hanya apa yang tampak di permukaan.

Saya tidak mau berdebat tentang peran perempuan dalam rumah tangga, dalam kehidupan sosial dan dalam urusan mencari nafkah. Saya hanya sedang terkagum-kagum dengan apa yang dilakukan perempuan di muka bumi ini.

Seorang perempuan sudah terbiasa bangun lebih awal dibandingkan pasangannya, bekerja lebih awal di rumah, mencuci piring, cuci pakaian, setrika, menyiapkan sarapan pagi, masak, membersihkan rumah dan macam-macam urusan rumah tangga lainnya. Meskipun ada pembantu rumah tangga, karena namanya juga “pembantu” maka jangan heran jika nyonya rumah tidak akan diam berpangku tangan dalam urusan internal rumah tangga.

Urusan beres-beres rumah belum lagi tuntas, perempuan (baca: ibu) sudah harus siap-siap menjadi guru di rumah. Ya, apalagi saat musim UAS seperti sekarang ini, ternyata peran perempuan di rumah bukan hanya urusan dapur, sumur, kasur, tapi masuk juga ke ranah pendidikan.  Jangan aneh jika jam-jam prime time kita akan sulit berkomunikasi dengan si ibu, karena dia sedang sibuk menjadi guru bagi anak-anaknya yang mau UAS esok harinya.

Bagaimana dengan perempuan yang rangkap jabatan ? disatu sisi sebagai isteri, disisi lain memiliki aktivitas luar rumah yang juga ketat, entah sebagai karyawati, profesional, atau mungkin juga masih ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.  Bisa jadi, (saya gunakan istilah “bisa jadi” karena memang tidak pernah melakukan penelitian), perempuan yang bekerjapun tetap menjalankan aktivitas kerumahtanggaannya, setidaknya mengurus anak-anaknya, karena urusan anak adalah urusan naluri.

Dan hebatnya, seorang perempuan melakukan semua pekerjaan itu tanpa mengikuti kursus terlebih dahulu. Tidak ada yang namanya akademi ibu rumah tangga, atau kursus menjadi isteri. Semua dilakukan learning by doing.

Disaat perempuan sibuk dengan urusan domestik, kemanakah para laki-laki ???  Kalau secara fisik, laki-laki atau suami memang jasadnya hadir di rumah, tubuhnya tidak jauh dengan perempuan yang sedang sibuk berbenah, jaraknya mungkin hanya berbeda beberapa meter.  Hanya saja, kedekatan fisik tersebut ternyata tidak banyak bisa membantu aktivitas kerumahtanggaan perempuan. Sebagian ada yang masih terbenam dibalik selimut, ada juga yang pagi-pagi mulai sibuk silaturahmi elektronik dengan blekberi di tangan (entah apa urgensinya pagi-pagi buta sudah saling bertegur sapa  via blekberi). Seorang laki-laki akan berargumentasi bahwa tugasnya adalah di kantor, mencari nafkah keluarga dan lain sebagainya. Dengan argumentasi itu seorang laki-laki sudah merasa cukup untuk membebaskan dirinya dari urusan rumah tangga. Di sisi lain, seorang perempuan yang kebetulan juga berstatus karyawati di kantor, seakan tidak punya alasan untuk menolak pekerjaan urusan rumah tangga. Seakan kelelahannya diluar rumah, kelelahan di kantor, kelelahan di kampus (bagi yang kuliah lagi), tidak dianggap sama sekali.

Adakah rasa malu diri kita laki-laki ketika mengemukakan argumentasi yang semata-mata hanya ingin menghindari tugas membantu isteri di rumah? Bukankah laki-laki itu selalu dianggap mahkluk yang kuat sedangkan perempuan sudah terlanjur dianggap sebagai mahluk lemah? Kenapa laki-laki tidak menunjukkan “kekuatannya” di rumah dengan cara membantu tugas isteri? Bukankah akan lebih baik jika julukan sebagai mahluk kuat itu diwujudkan dengan cara yang positif, membantu tugas rumah tangga isteri ?

Maaf, lagi-lagi saya tidak mau berdebat tentang peranan perempuan. Jangan bawa saya ke perdebatan bahwa kewajiban laki-laki itu mencari nafkah dan kewajiban perempuan itu mengurus rumah tangga.  Saya hanya ingin mengungkapkan dari sisi lain tentang seorang perempuan, tidak bicara tentang hak dan kewajiban, tidak juga bicara tentang peranannya.

Jika suatu saat saya diminta bertukar peran, dengan tegas saya katakan rasanya tidak akan mampu. Kalau di kantor jam kerja sudah sangat jelas, pagi sampai sore. Kadang lembur, tapi tidak setiap hari. Bahkan sesibuk apapun, di kantor masih sempat pesbukan, bbm-an, ketawa-ketiwi, window shopping. Tapi bagaimana dengan isteri? Jam kerja isteri itu nyaris 24 Jam !!!!!

Jika seorang profesional di Jakarta bergaji sekitar Rp 50 juta perbulan untuk pekerjaan yang hanya 12 jam misalnya, berapakah “gaji” yang layak buat seorang perempuan, isteri, ibu, dalam mengurus rumah tangga? Padahal tanggung jawab seorang perempuan di rumah demikian besar, karena perempuan tersebut bukan hanya sekadar menyuapi anak, membantu mengerjakan PR anak, atau menyiapkan anak mengikuti UAS. Tanggung jawab terbesar bagi perempuan adalah ketika dia mengurus rumah tangganya, ketika dia membesarkan anaknya, maka saat itulah seorang perempuan sedang mempersiapkan sebuah generasi untuk masa depan.  Terlalu rendah rasanya gaji Rp 50 juta perbulan untuk sosok manusia yang dari tangannya diharapkan muncul generasi terbaik bagi manusia.

Di tangan perempuanlah masa depan anak-anak kita dipersiapkan.  Karena perempuan (baca: ibu) adalah madrasah terbaik bagi putera-puterinya.

Bagaimana dengan kita laki-laki, masihkah kita akan berpangku tangan membiarkan tangan-tangan mungil perempuan di rumah kita bekerja sendirian disaat kita (laki-laki) sedang tidak sibuk dan tidak lelah?

Perempuan, kamu memang hebat.!!! Semoga Allah menerima setiap tetes keringatmu dan membalasmu dengan balasan berlipat ganda, semoga setiap tarikan nafasmu di rumah saat berjuang mempersiapkan generasi ini dicatat sebagai amal ibadah, aamiin.

Tulisan singkat dan tidak berbobot ini, teruntuk semua perempuan yang dengan ikhlas memberikan waktunya untuk mempersiapkan generasi terbaik bangsa.

Wallahu a’lam bish showab.

 

 

Bekasi, 9 Desember 2011

Ismail Marzuki

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s