Kapan kita terakhir menangis?

Kapan kita terakhir menangis?

Ada saat dimana kita menangis karena kehilangan seseorang yang kita cintai, seseorang yang sudah sangat dekat kehidupannya dengan kehidupan kita. Kita mungkin pernah menangis ketika ayah atau ibu kita wafat, atau ketika putera-puteri kita tercinta meninggal dunia terlebih dahulu, atau tatkala isteri atau suami kita mendahului kita dipanggil yang Mahakuasa.

Menangis karena kehilangan sesuatu yang kita sayangi dan kita cintai sudah sering kita lakukan, secara sadar maupun tidak sadar. Bahkan tidak jarang terjadi kita menangis karena kehilangan harta kita.

Pernahkah kita menangis justru ketika kita membayangkan diri kita sendiri yang terbujur kaku tanpa nyawa, tanpa nafas pergi mendahului orang-orang yang kita cintai untuk menghadap Allah?

Ada dua tangisan yang mengiringi seseorang tatkala ia membayangkan kematian yang akan menghampirinya. Tangisan yang pertama mengiringi adalah tangisan untuk dirinya sendiri, yang membayangkan betapa sedikitnya bekal yang ia bawa untuk tempat tinggal abadinya di akhirat nanti.

Tangisan yang didasari oleh pengakuan jujur diri sendiri bahwa masih terlalu sedikit investasi amal di dunia yang dapat dinikmati diakhirat nanti, masih terlalu banyak dosa-dosa yang melekat erat di tubuhnya laksana kotoran yang makin lama semakin menebal karena taubat yang sering di tunda-tunda. Dosa kecil, dosa sedang maupun dosa besar yang sering diremehkan tidak terasa telah melekat bagai karat yang sulit dibuang karena selama ini dengan mudahnya mempermainkan taubat, menganggap bahwa kapanpun bisa mengatur waktu taubat, padahal saat kematian datang kematian itu tidak pernah menunggu waktu bagi seseorang untuk bertaubat. Kematian bisa datang kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja.

Tangisan kedua yang mengiringi seseorang tatkala ia membayangkan kematiannya sendiri adalah tangisan yang dilandasi cinta, cinta kepada keluarga, cinta kepada isteri atau suami, cinta kepada anak-anaknya, juga cinta kepada teman-temannya. Tangisan dan air mata meleleh ketika membayangkan isteri atau suami dan anak-anak nya akan hidup sendirian tanpa dirinya, isteri akan hidup tanpa suami, suami akan hidup tanpa isterinya, anak-anak akan hidup tanpa orang tuanya. Terbayang, betapa masih sedikitnya cinta yang diberikannya kepada keluarga, betapa sedikitnya bekal ilmu yang ditanamkan kepada keluarganya, betapa sedikitnya ketakwaan yang diajarkan kepada keluarganya, dan betapa sedikitnya harta yang dapat ditinggalkan buat masa depan kelaurganya.

Sebuah tangisan hanyalah menjadi tangisan biasa yang tidak berarti apa-apa tanpa adanya usaha sungguh-sungguh untuk mengubah yang buruk menjadi baik.

Tangisan pertama hanya akan berguna ketika detik ini juga kita bertaubat atas segala dosa yang telah kita perbuat, dosa kecil, dosa sedang,apalagi dosa besar. Bertaubat dengan kesungguhan untuk mengakui semua kesalahan, meninggalkan kesalahan itu, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tangisan pertama, harus ditindaklanjuti dengan memperbanyak investasi amal ibadah kita dengan amalan yang ikhlas dan benar.

Tangisan kedua akan bermakna bila kita mewujudkan cinta kita kepada keluarga tidak hanya dengan kata-kata, teai dengan langkah nyata. Sudah selayaknya kita bertanya kepada diri sendiri sudah sejauh mana kita mempersiapkan keluarga kita dengan bekal yang cukup? Apakah bekal yang cukup itu hanya berupa harta saja?

Sebaik-baik bekal buat diri kita dan keluarga kita adalah bekal takwa. Bukan tidak mungkin selama ini kita sibuk dengan urusan kita sendiri sehingga kita lupa membekali keluarga kita dengan ketakwaan. Bekal takwa menempati urutan pertama karena ketika pada saatnya kita wafat kelak, doa anak-anak kita yang shaleh yang akan menemani kita nanti.

Ternyata menangis, bukan hanya milik orang yang ditinggal mati, tetapi bisa menimpa orang yang membayangkan kematian. Membayangkan kematian tiba bukan dengan membayangkan bagaimana cara kita mati, tetapi yang paling penting adalah dalam keadaan bagaimana kita akan mati, khusnul khotimah atau su’ul khotimah?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam” [QS. 3:102]

Wallahu a’lam bish showab

17 Dzulhijjah 1432 / 13 November 2011

Beberapa saat menjelang waktu Ashar tiba

Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s