Takut Jadi Haji

Idul Adha 1432 Hijriah atau yang biasa disebut lebaran haji baru saja berlalu. Ada sedikit cerita berkaitan dengan kewajiban ibadah haji, bukan tentang aktivitas ibadahnya tetapi cerita tentang alasan-alasan yang pernah saya dengar dari teman bicara ketika saya mulai “mempromosikan” haji.

Biasanya, ketika obrolan sudah menyerempet pada urusan agama, saya langsung bicara tentang haji. Ada yang antusias, ada juga yang langsung mengeluarkan jurus menghindar dengan berbagai alasan. Nah, di bawah ini beberapa alasan yang membuat seseorang enggan ibadah haji.

  1. Belum cukup ilmu

 

Bagaimana mau jadi haji, bacaan qur’an saya masih blepotan, doa-doa banyak yang belum hafal, tata cara sholat dan wudhu masih kacau”… demikian kiria-kira alasan yang disampaikan sang teman yang intinya merasa ilmunya masih belum cukup untuk jadi haji.

 

Benarkah alasan tersebut?

 

Pada dasarnya kewajiban untuk bisa beribadah dengan benar tidak hanya ketika akan berhaji, tetapi harus sejak awal memahami cara ibadah kita. Seorang muslim berkewajiban untuk memiliki ilmu agama terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadahnya sehari-hari.  Bagaimana mungkin bisa sholat dengan benar jika kita tidak pernah mau belajar sholat.  Ukuran kedalaman pemahaman beribadah bagi seorang awam, tidak harus sama dengan seorang ustadz atau ulama. Jadi, untuk mampu beribadah wudhu, sholat, puasa untuk kebutuhan sendiri, tidak memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mempelajarinya. Jika memang berniat bisa ibadah sholat dengan baik misalnya, cukup sediakan waktu satu atau beberapa hari untuk pelatihan. Berbeda dengan ustadz atau ulama, seorang ustadz memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menggali ilmu karena dengan ilmunya dia akan mengajarkan umat.

Tentang doa-doa ibadah haji sebenarnya tidak banyak doa khusus yang harus dihafal atau diamalkan selama haji. Kadang jamaah haji terpaku oleh buku panduan yang diberikan oleh Kementrian Agama mengenai doa-doa seperti doa putaran pertama tawaf dan seterusnya, padahal tidak ada tuntunan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengenai keharusan membaca doa tertentu pada setiap putaran tawaf.

Kesimpulannya, untuk beribadah haji tidak disyaratkan harus memiliki ilmu setaraf ustadz.

 

  1. Belum cukup dana

“Saya sih sebenarnya niat untuk ibadah haji, tapi tidak sekarang, karena dananya belum cukup, masih buat renovasi rumah dulu”.

“saya sudah niat pergi haji, tapi rasanya ngga akan sanggup….biayanya mahal. Yang penting niat”

Dua dialog di atas adalah contoh alasan yang berkaitan dengan dana.

 

Teman, kalau kita mau jujur menghitung-hitung, manusia mana yang tidak pernah butuh uang? Orang kaya, apalagi orang miskin, selalu butuh uang dengan skala masing-masing. Orang miskin butuh uang untuk makan sehari-hari, dalam arti yang sebenarnya. Orang kaya butuh uang untuk memenuhi gaya hidupnya, sekaligus untuk mempertahankan kekayaannya. Jadi, kalau yang dijadikan ukuran adalah kebutuhan hidup, maka nyaris semua orang akan mendahulukan urusan duniawinya.

 

Haji, diwajibkan satu kali seumur hidup. Niat ibadah haji sangat penting, tetapi niat yang benar bukanhanya niat yang terucap dibibir. Niat pergi haji yang benar adalah berniat di hati dan berusaha mewujudkan niat tersebut. Jika anda lapar dan berniat makan, maka niat anda harus diwujudkan dengan cara memasak, atau menyuruh pembantu membuat mie instan atau beli di warteg. Begitu juga dengan haji, jika anda niat pergi haji, niat itu harus diwujudkan dengan cara menabung sedikit demi sedikit agar niat anda terwujud. Apalagi sekarang pemerintah menggunakan system tabungan haji, sehingga setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk pergi haji.

 

Kesimpulan, niat untuk pergi haji harus diwujudkan dengan cara menyisihkan dana untuk tabungan haji.

 

  1. Belum siap mental

 

“Saya belum siap dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah….”

Ada juga teman saya tidak tenang dengan predikat haji, karena kebiasaan di daerahnya yang namanya Pak Haji harus bisa mimpin doa, tahlilan dsb.

 

Sebutan Pak Haji atau Bu Hajjah sebenarnya cuma ada di Indonesia atau mungkin juga Malaysia. Di negara-negara lain, apalagi di Saudi Arabia tidak ada gelar haji bagi mereka yang pernah beribadah haji. Gelar haji tersebut kadang bisa membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain, sehingga tidak aneh kalau dibeberapa tempat seorang haji identik dengan pemimpin doa dalam acara kendurian.

 

Kalau masalahnya hanya karena tidak nyaman dengan sebutan haji, sebaiknya minta kepada teman atau saudara agar tetap memanggil dengan nama asli tanpa embel-embel haji.

 

  1. Belum dipanggil

 

Kalimat “belum dipanggil” sering saya dengar ketika berbicara tentang haji. Entah apa yang dimaksud dengan “belum dipanggil”.

Sepanjang pengetahuan saya yang awam ini, terhitung sejak seseorang mengikrarkan diri sebagai muslim, maka saat itulah dia “dipanggil” untuk melaksanakan semua ibadah yang diperintahkan Allah.  Sholat, puasa, zakat, juga haji sudah diwajibkan jauh sebelum kita dilahirkan orang tua kita. Hanya saja khusus haji memang ada syarat khusus yaitu jika mampu.

 

  1. Takut sanksi/balasan

 

Entah bagi jamaah haji negara lain. Jamaah haji dari Indonesia sering membawa cerita-cerita “alam lain” sepulangnya dari tanah suci. Misal, ketika ada salah satu jamaah yang hilang di Mekkah, lalu dikait-kaitkan dengan kebiasan buruknya di tanah air. Cerita-cerita yang begini yang membuat takut calon jamaah.  Orang yang selama hidupnya sering berbuat maksiat jadi takut pergi haji karena takut mendapat balasan kontan di tanah suci.

 

Semua cerita-cerita itu, meskipun mungkin pernah terjadi di tanah suci, tidak ada kaitannya dengan kejadian di tanah air. Bukankah di tanah suci hadir semua jenis lapisan masyarakat? Ada yang “mantan koruptor” (atau mungkin masih hoby korupsi), ada yang masih hoby maksiat, tetapi kita tidak pernah mendengar ada berita tentang seorang koruptor tanah air yang terbuka aibnya di tanah suci.

 

Kalau menurut ustadz yang pernah saya tanya, beliau bilang itu hanya mitos. Saya setuju dengan jawaban ustadz tersebut.

 

  1. Belum siap meninggalkan kebiasaan lama

 

Ada juga yang enggan pergi haji karena merasa belum mampu meninggalkan kebiasaan lama yang buruk.

 

Padahal yang namanya kebiasaan buruk, termasuk maksiat, bukan hanya dilarang bagi seorang haji tapi juga buat seluruh manusia.  Jadi tidak ada perbedaan tentang larangan bagi yang haji atau bukan.

 

Alasan-alasan di atas mungkin hanya sebagian dari berbagai alasan yang membuat orang takut pergi haji. Jika alasan-alasan di atas bisa di atasi tentunya tidak ada alasan lagi bagi kita menunda waktu untuk beribadah haji.

Atau mungkin masih ada alasan lain?

Wallahu a’lam bish showab

12 Dzulhijjah 1432 H – 8 November 2011 M

Ismail Marzuki

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s