Mumpung Telinga Masih Mendengar dan Mata Masih Melihat

Saya yakin, siapapun yang membaca tulisan ini, ia pasti bisa melihat karena tulisan ini tidak ditulis dengan huruf braile. Sebagian besar (jika tidak dapat dikatakan 100%) yang membaca tulisan ini juga masih mampu mendengar.

Pendengaran dan penglihatan merupakan karunia Allah yang sangat besar. Sudahkah kita menggunakan karunia tersebut dengan melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintahkan Allah?
Selama hidup kita, pernahkah kita mendengar suara adzan dari masjid di sekitar rumah kita? Ketika datang waktu sholat wajib, pernahkah penglihatan kita terganggu hingga kita tidak mampu untuk mencapai masjid karena gangguan mata tersebut?

Zaman sekarang masjid-masjid telah menggunakan pengeras suara yang mampu memperdengarkan suara adzan hingga ratusan meter dari masjid. Zaman sekarang hampir disetiap tempat telah terpasang lampu listrik yang dapat menerangi jalan-jalan menuju masjid.

Apabila telinga kita masih mampu mendengar suara adzan dari masjid, apabila mata kita tidak terhalang untuk menuntun kita menuju masjid, hambatan apakah yang menghalangi langkah kita ke masjid?
Bukankah karunia telinga dan mata harusnya kita gunakan untuk bersyukur kepada Allah dan cara bersyukur adalah dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah?

Adakah keringanan bagi kita yang “normal” (memiliki telinga dan mata) dalam masalah ibadah ke masjid? Adakah dispensasi bagi kita untuk tidak ke masjid?

Marilah kita renungkan fatwa dari Syaikh bin Baz berikut ini:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.” (HR. Ibnu Majah (793), ad-Daru Quthni [1/421, 422), Ibnu Hibban (2064), al-Hakim (1/246)].

Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang dimaksud dengan udzur tersebut?”, ia menjawab, “Rasa takut (tidak aman) dan sakit.”

Diriwayatkan, bahwa seorang buta datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhshah untuk shalat di rumahku?” kemudian beliau bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat?” ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah.” [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab al-Masajid (653)].

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya, namun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkannya untuk shalat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maka yang wajib atas seorang Muslim adalah bersegera melaksanakan shalat pada waktunya dengan berjamaah. Tapi jika tempat tinggalnya jauh dari masjid sehingga tidak mendengar adzan, maka tidak mengapa melaksanakannya di rumahnya. Kendati demikian, jika ia mau sedikit bersusah payah dan bersabar, lalu shalat berjamaah di masjid, maka itu lebih baik dan lebih utama baginya. [Rujukan: Syaikh Ibnu Baz, Fatawa ‘Ajilah Limansubi ash-Shihhah, hal. 41-42 dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq, halaman 225-226.]

Jadi, bagi kita yang memiliki telinga (pendengaran) dan mata (penglihatan), masihkah ada alasan bagi kita untuk tidak datang ke masjid? Semoga Allah selalu memberikan kekuatan iman kepada kita untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid, amin.

Wallahu a”lam bish showab.

Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s