Mencari-cari Alasan Agar Tidak Sholat Subuh di Masjid

Beberapa waktu lalu saya menunaikan shalat Jumat di suatu tempat di Jakarta. Ada yang menarik dari khutbah yang disampaikan oleh Khotib yang membuat saya berusaha mencari jawaban atas pernyataan Khotib. Khotib itu mengatakan bahwa “tidak ada alasan bagi kita untuk tidak sholat subuh berjamaah di masjid”. “Ketika waktu dzuhur dan ashar kita masih di tempat kerja, sehingga dimaklumi jika tidak berjamaah di masjid dekat rumah kita. “Ketika maghrib kemungkinan masih di kantor atau sedang dalam perjalanan pulang, dan ketika Isya mungkin kita baru saja tiba di rumah sehingga tidak sempat ke masjid dekat rumah kita“, demikian kata Khotib.

 

Kalimat yang disampaikan khotib tersebut mengenai sholat subuh adalah kalimat dengan bahasa yang sangat sederhana yang dengan mudah dapat dicerna arti dan makna kalimatnya. Ucapan Khotib tersebut menjadi suatu perenungan yang cukup dalam bagi saya selepas sholat Jumat karena mungkin saja saya pernah mencari-cari alasan agar tidak sholat subuh berjamaah di masjid. Saya mencoba merenungi alasan-alasan yang biasa muncul tatkala seseorang tidak hadir sholat subuh di masjid. Alasan-alasan tersebut mungkin saja pernah hinggap pada diri saya.

 

Manusia merupakan mahluk yang berakal. Akal inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Penggunaan akal yang tepat insya Allah akan mengantarkan kita pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Penggunaan akal yang tepat adalah penggunaan yang tunduk pada dan berdasarkan hukum Allah. Seseorang yang melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah berarti telah menggunakan akalnya secara tepat. Akan tetapi terkadang akal juga digunakan untuk mencari-cari celah agar manusia “terhindar” dari suatu kewajiban sehingga munculah sikap “akal-akalan” yaitu mencari sebab-sebab yang dibuat sedemikian rupa sehingga seakan-akan sebab-sebab itu adalah sebab yang sah dan dapat diterima.

 

Marilah kita bawa akal kita untuk memikirkan sesuatu yang telah Allah janjikan kebaikan kepada kita mengenai sholat subuh. Ada beberapa keistimewaan sholat subuh, lalu kemudian bandingkanlah keistimewaan sholat subuh dengan hal-hal lain yang dijadikan alasan sehingga kita tidak tidak sholat subuh.  Keistimewaan sholat subuh, yaitu:

 

1. Pahala sholat malam satu malam penuh

 

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang sholat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah sholat setengah malam. Dan barangsiapa sholat Subuh berjamaah (atau dengan sholat Isya, seperti yang tertera dalam hadits Abu Dawud dan Tirmidzi) maka seakan-akan dia telah melaksanakan sholat malam satu malam penuh [HR Muslim]

 

2.  Sumber cahaya di hari kiamat

 

Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah]

 

3. Surga yang dijanjikan

 

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda: “Barangsiapa yang sholat dua waktu yang dingin maka akan masuk surge” [HR Bukhari]. Dalam Fath Al-Bari disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sholat dua waktu dingin adalah sholat Subuh dan sholat Ashar. Disebut dingin karena dua sholat tersebut terletak pada ujung hari (pagi dan sore), saat yang sejuk dan panas matahari tidak lagi terik.

 

Itulah antara lain keistimewaan sholat subuh berjamaah. Suatu keistimewaan yang tidak akan mungkin dapat tergantikan dengan hal-hal yanga ada di dunia ini.

 

Lalu, mengapa masih enggan ke masjid untuk sholat subuh? Memang benar sholat subuh berjamaah merupakan ujian berat bagi kita. Sebagai orang yang beriman kita pasti akan selalu menghadapi ujian dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan kita harus menghadapi ujian tersebut dengan tegar. Sholat subuh berjamaah di masjid merupakan ujian juga bagi kita, apakah kita akan tetap terbaring menikmati kasur empuk dan selimut hangat di pagi hari atau segera berangkat ke masjid. Akan selalu ada hambatan internal untuk datang ke masjid jika kita tidak niatkan dengan ikhlas untuk sholat subuh di masjid.

 

Alasan yang paling sering digunakan agar “terhindar” dari sholat subuh berjamaah di masjid adalah tidur. Memang benar, tidur merupakan satu uzur yang dimungkinkan bagi seseorang untuk tidak melaksanakan sholat tepat pada waktunya. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pena diangkat dari tiga orang (malaikat tidak mencatat apa-apa dari tiga orang), yaitu: orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia dewasa, dan orang gila hingga ia berakal normal atau sembuh.” [Riwayat Ahmad dan Imam Empat kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim. Ibnu Hibban juga mengeluarkan hadits ini].  

 

Dengan mengambil dalil dari hadits tersebut memang benar ada pengecualian atau dispensasi bagi orang yang tidur, tetapi jika setiap hari kita tidak sholat subuh berjamaah dengan alasan tidur, apakah kita sudah termasuk orang-orang yang menggunakan akalnya dengan baik? Yang namanya dispensasi tentunya hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu. Misalnya seorang pegawai diberikan dispensasi untuk terlambat masuk kantor pada satu hari karena pegawai tersebut terlambat bangun tidur. Inilah yang disebut dispensasi karena niat awalnya pegawai tersebut memang ingin bekerja dengan baik hanya saja ia terhalang masuk tepat waktu. Akan tetapi jika sang pegawai setiap hari meminta dispensasi dengan alasan terlambat bangun, apakah ini dapat dibenarkan? Yang mungkin terjadi adalah karir pegawai tersebut “mentok” atau yang paling pahit adalah dipecat karena ia telah melalaikan kewajibannya selaku pegawai. Bagaimana dengan sholat? Kita tentu ingat ada satu ayat mengenai orang yang lalai dalam sholat: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”, [QS Al-Maa’uun:4-5]

 

Bagi yang akan pergi ke luar kota atau ke luar negeri menggunakan pesawat udara diwajibkan untuk hadir tepat waktu, karena jika terlambat datang ke bandara maka kita akan ketinggalan pesawat. Dalam kasus pesawat tersebut, dapatkah kita menggunakan alasan bahwa kita terlambat karena ketiduran?

 

Bagi seorang pegawai, swasta maupun negeri, terlebih lagi pegawai di instansi kemiliteran, dituntut untuk hadir di tempat tugasnya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Seorang tentara, misalnya wajib apel pagi  setiap jam 7 pagi di markasnya. Demikian juga pegawai negeri yang sekarang menggunakan absensi sidik jari wajib datang tepat waktu. Beranikah seorang anggota militer mengatakan kepada komandannya bahwa ia minta dispensasi tidak ikut apel karena selalu terlambat bangun? Kewajiban apel pagi bagi tentara atau hadir tepat waktu bagi pegawai tersebut adalah kewajiban yang dibuat berdasarkan aturan manusia. Untuk  aturan yang dibuat manusia kita bisa taat, lalu kenapa untuk aturan yang dibuat Allah kita lalai? Berapa rupiahkah janji manusia yang akan kita terima pada tanggal gajian? Bandingkanlah dengan janji Allah yang akan kita peroleh jika kita rajin sholat subuh berjamaah. Jika kita menggunakan akal kita dengan benar, maka kita tidak akan melalaikan sholat subuh kita.

 

Kita sering menyaksikan di stasiun kereta dan di terminal bus banyak orang berkerumun berdesakan untuk cepat-cepat tiba di tempat kerja, untuk mengejar sesuatu yang bersifat duniawi dan sementara. Seandainya semangat tersebut kita gunakan juga dalam hal beribadah kepada Allah, maka akan kita saksikan betapa “ramainya” masjid pada waktu subuh. Masih ingatkah kita pada suasana hari pertama sholat subuh pada bulan Ramadhan? Subhanallah, betapa terharunya hati ini menyaksikan dan mengalami keindahan sholat subuh berjamaah pada hari pertama Ramadhan. Mampukah kita mempertahankan hal-hal baik di bulan Ramadhan itu?

 

Faktor ketiduran sebagai penyebab kita tidak sholat subuh berjamah di masjid dapat kita hilangkan setidaknya kita kurangi karena di zaman modern ini banyak sarana untuk bangun tidur tepat waktu. Jam weker sekarang ini dijual dengan harga cukup murah, bahkan cuma seharga dua atau tiga bungkus rokok. Handphone sekarang ini sudah dilengkapi dengan alarm pengatur waktu. Masjid saat ini sudah dilengkapi loudspeaker untuk mengumandangkan adzan. Setidaknya tiga sarana tersebut dapat digunakan untuk membangunkan kita untuk sholat subuh berjamaah sehingga alasan ketiduran setiap hari tidak dapat diterima.

 

Alasan lain yang digunakan oleh sebagian dari kita untuk mendukung faktor ketiduran adalah masalah kelelahan. Yang menggunakan alasan ini seakan berkata, “Saat jam weker berbunyi saya bangun, tapi mata saya masih berat karena saya lelah kerja sampai malam“. Kerja lembur memang suatu kenyataan di tengah-tengah kita, tetapi sulitkah menyediakan waktu sekitar 20 menit untuk sholat subuh berjamaah di masjid? Mengapa kita biarkan keistimewaan sholat subuh berjamaah lenyap hanya karena takut kehilangan 20 menit di tempat tidur?

 

Alasan lain bagi yang tidak sholat subuh di masjid adalah karena ia sholat di rumah bersama istri dan anaknya. Alasan tersebut tidak tepat karena sholat di rumah adalah sholat yang dianjurkan bagi perempuan sedangkan bagi laki-laki sholatnya di masjid. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah]. Apabila ada orang tua yang beralasan bahwa sholat di rumah untuk mengajarkan anak-anaknya rajin sholat, maka cara tersebut tidak tepat karena tidak membiasakan anak untuk sholat di masjid sehingga dengan demikian dari generasi ke generasi dari keluarga tersebut hanya akan sholat di rumah.

 

Setiap orang memiliki beban untuk menjadi teladan bagi orang lain. Seorang ayah mempunyai beban untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Jika seorang ayah malas sholat subuh berjamaah, akan sulit bagi sang ayah untuk meminta anaknya ke masjid. Kadang-kadang kita sebagai seorang ayah hanya menginginkan buah yang baik tanpa pernah berusaha untuk memelihara pohon dengan pupuk dan perawatan yang baik. Seorang ayah adalah panutan bagi anaknya. Seorang pemimpin, baik pemimpin formal maupun informal, baik organisasi sosial terlebih lagi organisasi agama mempunyai beban menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya.

 

Berkaitan dengan sholat subuh, marilah kita simak hadits Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksankan sholat, lalu sholat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan orang lain untuk sholat bersama orang-orang. Kemudian beberapa lelaki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri sholat berjamaah sehingga aku bakar rumah mereka”[HR Bukhari- Muslim].

 Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

 

Wallahu’alam bish showab

One thought on “Mencari-cari Alasan Agar Tidak Sholat Subuh di Masjid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s