VALENTINE’S DAY, BERHALA BERSELIMUT CINTA MERAH JAMBU

Siapakah orang yang tidak bahagia ketika dirinya dicintai dan disayangi oleh orang lain? Hati berbunga-bunga, jiwa terasa terbang melayang ke langit tertinggi tatkala ucapan kasih sayang cinta asmara hinggap di pendengaran seseorang dari orang yang sangat diharapkan. Ketika kata-kata cinta menyelusup lembut ke hati seseorang, hanya keindahan yang tampak dihadapannya, dunia seakan tersenyum untuk mereka berdua, hujan bukanlah halangan tapi penambah kesejukan, panas matahari bukanlah hambatan tapi penghangat hati keduanya, gulita malam bukanlah sesuatu yang menakutkan tetapi bagian dari panorama alam.

 

 

Demikianlah gambaran ketika panah asmara menghujam masuk ke dalam lubuk sanubari seseorang terutama bagi jiwa-jiwa muda yang masih dalam tahap pencarian identitas diri, mencari sesuatu yang baru dari luar dirinya.

 

Cinta bukanlah hal tabu dalam Islam. Cinta menjadi sesuatu yang terlarang ketika cinta ditempatkan secara salah dalam bingkai kemaksiatan. Tidak ada yang salah ketika seseorang jatuh cinta kepada lawan jenisnya sepanjang perasaan cintanya disalurkan dengan cara-cara yang benar dan cintanya kepada lawan jenisnya tidak melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Pemuda yang mencintai pemudi dapat mewujudkan rasa cintanya tersebut pada ikatan pernikahan sepanjang syarat-syaratnya telah terpenuhi. Islam tidak mengenal pacaran karena dalam pacaran, terlebih pada masa sekarang, tersimpan berjuta jurang kemaksiatan.

 

Temperatur cinta dikalangan jiwa muda biasanya memanas menjelang dan pada saat tanggal 14 Februari, yang dikenal dengan Valentine’s Day, Hari Kasih Sayang. Bagaikan sebuah hari raya, jauh-jauh hari para pasangan mempersiapkan dan menanti-nanti datangnya Valentine’s Day. Atmosfer warnapun berubah menjadi seragam pada tanggal 14 Februari. Warna merah jambu atau pink menjadi warna ‘wajib” bagi para pasangan yang merayakan Valentine’s Day. Hampir semua barang yang melekat ditubuhnya berwarna merah jambu, bahkan hiasan makananpun berwarna merah jambu.

 

Pada masa kini, ketika tanggal 14 Februari digunakan oleh para pasangan pencinta untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada pasangannya masing-masing. Ungkapan cinta yang muncul adalah ungkapan cinta asmara.

 

Bagi muslim, turut serta terlibat dalam Valentine’s Day merupakan suatu kesalahan dan mengindikasikan ketidakmengertian akan makna cinta dan asal muasal Valentine’s Day itu sendiri.

 

Makna cinta seharusnya tidak hanya kata-kata manis yang terucap dari bibir seseorang saat Valentine’s Day, tetapi makna cinta lebih dalam dari itu semua. Cinta bukanlah sesuatu yang hanya muncul dalam seremonial, cinta harus selalu ada setiap saat pada setiap orang. Ungkapan cinta tidak hanya berupa ucapan verbal tetapi seharusnya terwujud dalam suatu bentuk yang melekat dalam tindakan keseharian. Cinta seorang suami terhadap isterinya adalah cinta yang melekat terus menerus yang tidak hanya terbatas dalam bentuk ucapan lisan atau bentuk-bentuk materi seremonial seperti kado di hari Valentine. Seorang suami baru pantas dikatakan mencintai isterinya apabila sang suami “selalu dirasakan kehadirannya” disisi isterinya setiap saat, menjadi pelindung setia yang siap menjaga hati isterinya dari segala macam kegundahan. Dapat terjadi bahwa isteri merasakan ketidakhadiran suami meskipun secara fisik sang suami ada di sisinya, sehingga dalam keadaan demikian sang suami perlu untuk menyegarkan kembali cintanya. Cinta dapat berarti juga kebersamaan baik berupa fisik ataupun hati. Ungkapan cinta dapat terwujud setiap hari tatkala suami dan isteri mampu bersama-sama mengisi kehidupan dalam rumah tangganya. Cinta terasa ada tatkala isteri benar-benar merasakan kehadiran suami dihatinya dan suami benar-benar merasakan kesejukan dan kelembutan perhatian sang isteri bagi suaminya. Jika demikian, masihkan kita memerlukan Valentine’s Day untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang? Mana yang lebih bermakna ungkapan cinta setiap hari melalui perbuatan atau hanya setahun sekali dengan sekadar ucapan?

 

Para remaja harus pula menyadari bahwa kasih sayang tidak hanya semata-mata dalam wujud cinta asmara yang berujung pada pacaran. Kasih sayang sebagai fitrah manusia harus disalurkan dengan benar, seperti misalnya saling mengasihi sesama muslim, mengasihi ayah dan bunda, mengasihi adik dan kakak, gemar menolong orang lain dan berbagai macam perbuatan baik lainnya yang didasarkan perasaan kasih sayang tanpa embel-embel asmara.

 

Bolehkah merayakan Valentine’s Day?

 

Sebelum membahas hukum Valentine’s Day, perlu diketahui terlebih dahulu sejarah dari Valentine’S Day.

 

Sejarah Valentine’s Day

The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :

“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came from a combination of all three of those sources–plus the belief that spring is a time for lovers.”

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya. Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

 

 

Hukum Merayakan Valentine’s Day

 

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan :

“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena: Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam. Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.

 

Setelah mengetahui sejarah dan hukum merayakan Valentine’s Day, masih layakkah jika seorang muslim merayakannya?

 

Sayang sekali, sebagian besar remaja muslim belum menyadari persoalan yang sebenarnya dari Valentine’s Day ini dan hanyut terbawa oleh suasana, terlebih lagi industri hiburan dan media berlomba-lomba memperomosikan kegiatan Valentine’s Day. Dengan dalih saling berkasih sayang, remaja muslim telah terperosok pada jurang kemaksiatan. Bukan hal yang aneh jika dalam perayaan Valentine’s Day akan terjadi saling sentuhan fisik meskipun mereka belum terikat tali pernikahan, dan semuanya dilakukan atas dasar kasih sayang dan perwujudan cinta.

 

Valentine’s Day telah menjadi dasar hukum baru bagi ungkapan cinta dan kasih sayang, seakan-akan dalam Valentine’s Day semua hal bisa dilakukan. Dengan dalih Valentine’s Day sepasang laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan merasa sah berpelukan, berciuman bahkan berhubungan layaknya suami isteri.

 

Semua aturan dan larangan agama seakan boleh dilanggar demi hari kasih sayang atau Valentine’s Day, sehingga Valentine’S Day ditempatkan melebihi ajaran agama. Valentine’s Day telah menjadi berhala bagi para pemujanya, ditempatkan sebagai sesuatu yang tidak terbantahkan dan harus ada setiap tahun. Vaelntine’s Day menjadi berhala, tetapi pemujanyan tidak menyadarinya karena sang berhala berselimutkan sosok cinta berwarma merah jambu sehingga terlihat indah dan romantis.

 

Sejarah Valentine’s Day penuh dengan cerita kemaksiatan dan bersumber dari sejarah Nasrani. Sebagai muslim seharusnya kita bangga dengan hari raya kita sendiri. Sebagai muslim kita dapat menghadirkan cinta dan kasih sayang setiap hari. Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus ada pada setiap tarikan nafas kita. Cinta kepada suami atau isteri, cinta kepada anak, saling berkasih sayang kepada teman dapat kita lakukan setiap saat tanpa harus menunggu Valentine’s Day. Islam mengajarkan bagaimana sebaiknya membina hubungan sesama manusia tanpa harus melanggar aturan agama.

 

 

Wallahu’alam bish showab

 

(sumber dan bahan bacaan antara lain: http://www.Alsofwah.or.id; http://www.Almanhaj.or.id; Kitab Fatwa-Fatwa Terkini, edisi Indonesia, Jilid 2, Penerbit Darul Haq)

One thought on “VALENTINE’S DAY, BERHALA BERSELIMUT CINTA MERAH JAMBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s