Mencetak Jagoan, Menggapai Puncak Prestasi

Jagoan, berasal dari kata “Jago” nama jenis hewan ayam berkelamin laki-laki. Kata jagoan biasanya digunakan untuk menunjukkan kehebatan seseorang dalam suatu bidang. Pada era “jadul” (jaman dulu), kata jagoan identik dengan laki-laki berkumis, bertampang angker, dengan golok dipinggang siap melibas lawan yang malang melintang dihadapannya. Tapi itu jadul. Kalau sekarang istilah jagoan tidak lagi berhubungan dengan soal golok menggolok, kumis mengkumis atau libas melibas.

Diera informasi canggih seperti sekarang ini, jagoan lebih layak disematkan pada setiap orang yang memiliki prestasi pada bidangnya masing-masing. Ada jagoan fisika, karena dia memang jago dan menjuarai olimpiade fisika. Ada jagoan bulutangkis, karena dia sering menjuarai turnamen bulutangkis seperti Taufik Hidayat. Ada jagoan nyanyi, karena dia sering jadi juara nyanyi atau lomba sejenis Indonesian idol, dan berbagai macam jenis prestasi lainnya yang layak menyandang gelar jagoan.

Semua prestasi yang disebutkan di atas merupakan hasil dari suatu jerih payah yang dimulai dari nol hingga seseorang mencapai prestasi jagoan. Tidak ada suatu prestasi yang dapat dicapai hanya dengan berangan-angan saja. Tidak ada keberhasilan yang dapat diraih hanya dengan duduk manis menanti datangnya keajaiban. Seseorang boleh-boleh saja memiliki angan-angan, mimpi dan keinginan, tetapi tidak boleh berhenti sampai disitu saja. Semua harus dicapai dengan perjuangan.

Kalau kita pernah melihat acara pencarian bakat di televisi sejenis idola cilik dan sebagainya,  kita dapat saksikan betapa semangatnya para orang tua peserta dalam memberikan dukungan kepada putra putrinya. Hal ini wajar-wajar saja, karena orang tua menginginkan anaknya menjadi jagoan. Demikian juga dalam bidang prestasi sekolah, orang tua berduyun-duyun mendaftarkan anak-anaknya mengikuti les matematika, bahasa inggris, bahkan les musik dan tari. Semua itu tidak ada yang salah, wajar dan manusiawi karena setiap orang tua ingin mencetak jagoan.

Prestasi demi prestasi yang berhasil atau diraih anak-anak kita selama ini hanyalah salah satu bagian dari prestasi yang lebih besar, prestasi sebagai seorang muslim. Dari sekian jenis prestasi, ada puncak prestasi yang seharusnya kita persiapkan sejak dini bagi anak-anak kita. Puncak prestasi tersebut juga pernah disiapkan kedua orang tua kita untuk kita, dan saat ini kita persiapkan anak-anak kita untuk mencapai puncak prestasi tersebut.

Apa itu puncak prestasi? Juara kelas-kah? Juara menyanyi? Atau juara olahraga?

Bukan, puncak prestasi seorang muslim bukan terletak pada pencapaian urusan dunia semata-mata. Puncak prestasi seorang muslim adalah apabila telah mencapai derajat taqwa dimata Allah. Lhoooo…kenapa urusan prestasi dibawa-bawa ke masalah taqwa? Apa hubungannya? Begitu kira-kira pertanyaan yang mungkin timbul. Atau bisa jadi ada sebagian yang beranggapan bahwa urusan prestasi dalam hidup hanyalah urusan duniawi semata.

Kalau menggunakan cara berpikir ala barat, memang benar, urusan prestasi dunia tidak ada hubungannya dengan masalah taqwa, masalah akhirat atau masalah agama. Kita mengenal cara berpikir ala barat tersebut sebagai cara berpikir sekuler, yaitu memisahkan urusan dunia dengan urusan agama atau akhirat. Sebagai muslim, urusan dunia tidak dapat dipisahkan dengan urusan agama. Mau bukti bahwa urusan dunia berkaitan dengan agama? Contohnya: urusan mati bagi manusia secara medis berarti berhentinya seluruh fungsi tubuh. Jika semata-mata berpegang pada dunia, jika seseorang mati, maka biarkan saja mayatnya membusuk dimakan ulat, atau buang saja ke laut atau dibakar. Tetapi Islam mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan mayat secara terhormat.

Kembali kepada masalah Puncak Prestasi sebagai muslim. Ganjaran bagi orang yang bertaqwa adalah surga, dan inilah hadiah atas puncak prestasi muslim.

Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan di akhirat kekal selama-lamanya. Setiap orang pasti akan mati, dan pasti akan memperoleh satu dari dua hal ini: Puncak Prestasi, yaitu surga atau Puncak Kegagalan, yaitu neraka.

Cintakah kita kepada anak-anak kita? Jawabannya adalah “ya…saya cinta anak-anak saya, saya cinta suami saya, saya cinta isteri saya, saya cinta keluarga saya“.

Kalau memang kita mencintai anak-anak kita, mencintai keluarga kita bekal apakah yang telah kita siapkan untuk mereka? Bekal apa yang dapat kita berikan agar anak-anak kita mencapai derajat taqwa dan memperoleh surga? Apakah kita cukup hanya dengan membekali anak-anak kita dengan pengetahuan umum duniawi lalu berharap anak-anak kita siap menjadi anak yang bertaqwa? Tidak mungkin.

Agar anak-anak kita mampu mencapai derajat taqwa, kita harus mempersiapkan anak-anak kita dengan sungguh-sungguh dengan ilmu agama yang benar. Untuk mencapai derajat taqwa, seorang muslim harus menjalankan rukun Islam dan rukun iman. Bagaimana mungkin bisa menjalankan rukun-rukun tersebut jika anak-anak kita tidak memiliki ilmu agama yang baik? Jika untuk mencapai prestasi jagoan dalam bidang matematika seorang anak harus ikut les matematika, maka demikian pula halnya dengan ilmu agama. Agar jadi jagoan dalam ilmu agama seorang anak harus pula rajin dan tekun dalam menimba ilmu agama, baik melalui pendidikan formal ataupun non-formal.

Kita harus ingat, cita-cita menjadi dokter, insinyur, pilot, apalagi artis dan sebagainya adalah cita-cita sementara, sedangkan cita-cita yang kekal adalah cita-cita sukses di akhirat agar kita menjadi orang yang beruntung. Bagi muslim kriteria orang yang beruntung itu bukanlah dari segi duniawi, simak saja firman Allah: “…Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung …” [QS Ali Imran:185]. Jadi manusia yang beruntung adalah manusia yang dimasukkan ke dalam surga, bukan manusia yang kaya raya, bukan manusia yang populer, bukan manusia yang menang kontes idola.

Sebagian dari muslim salah dalam membuat skala prioritas dalam kehidupan sehingga lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Simaklah firman Allah: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi..”[QS Al Qashash:77]. Jadi, yang Allah perintahkan adalah mendahulukan kebahagiaan akhirat dan jangan melupakan dunia.

Mumpung anak-anak kita masih di bawah pengawasan kita, kini saatnya berikan perhatian yang besar kepada mereka dalam hal ilmu agama. Banyak sarana yang dapat digunakan untuk memberikan bekal ilmu agama kepada anak-anak kita. Jika kita mampu mendidiknya sendiri, hal ini tentu lebih baik karena tugas mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua, bukan tanggung jawab orang lain. Apabila ada keterbatasan ilmu dan waktu, maka kita dapat menitipkan anak-anak kita pada lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an yang berada dilingkungan kita.

Dalam proses belajar mengajar di TPA ada beberapa komponen yang terlibat yaitu: guru, murid, orang tua, dan lingkungan sekitar. Guru dan murid terlibat langsung dalam proses belajar, lingkungan terlibat dalam memberikan pengaruh terhadap hasil proses pendidikan, sedangkan orang tua berperan pada dua sisi dalam pendidikan tersebut yaitu langsung dan tidak langsung.

Peranan orang tua yang langsung bersentuhan dengan proses belajar adalah dalam hal memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap anak-anaknya dalam mengikuti pelajaran di TPA. Sebagian orang tua kadang menempatkan urusan TPA sebagai urutan nomor 3 dalam bidang pendidikan. Urutan pertama biasanya adalah sekolah formal (SD atau SMP), urutan kedua les-les (bahasa, matematika, musik) dan yang ketiga adalah TPA. Hal ini tentu sangat menyedihkan, mengingat ilmu agamalah yang akan mengantarkan anak-anak kita bahagia di dunia dan akhirat. Apalah artinya anak-anak kita sukses secara materi jika hatinya kosong dari keimanan kepada Allah. Apa gunanya anak kita mencapai juara kelas jika ternyata tidak mampu membaca Al-Qur’an. Apa manfaatnya anak kita pandai semua gerakan tari, jika ternyata tidak hafal gerakan sholat. Apa gunanya anak kita mampu menyanyi dengan baik, jika ternyata tidak hafal bacaan sholat. Anak adalah investasi akhirat kita. Suatu saat ketika kita wafat, doa anak yang sholeh yang akan membantu kita diakhirat.

Marilah kita introspeksi diri, sudah sejauh mana kita selaku orang tua memberikan perhatian terhadap pendidikan anak-anak kita di TPA. Jika setiap hari saat anak kita pulang sekolah, kita pasti bertanya: “nak ..apakah ada PR matematika?”. Pernahkah kita melakukan hal yang sama untuk urusan TPA? Pernahkah kita bertanya pada anak-anak kita tentang TPA-nya: “nak..ada PR hadits hari ini?, ..nak, ada hafalan doa apa hari ini?” nak..sudah berapa surat Al-Qur’an yang kamu hafal?”

Sering kita begitu panik ketika anak-anak kita mendapat tugas PR dari sekolah umum yang belum dapat diselesaikan, sedangkan kita tenang-tenang saja saat anak kita ada PR dari TPA. “Aaahh..cuma PR TPA, ga pengaruh sama UAN..”. Kita panik ketika buku sekolah umum anak-anak kita hilang, tetapi kita tidak peduli dengan kitab Iqro anak-anak kita yang sudah sobek compang-camping. Apakah ini yang masih ada dibenak kita? Bahkan yang lebih menyedihkan jika TPA hanya dijadikan murni sebagai tempat penitipan anak: “ya sudah sana pergi ke TPA…daripada di rumah berisik, mama mau tidur sore…!”

Usaha guru TPA dalam mendidik anak-anak kita tidak akan ada artinya jika tidak didukung oleh para orang tua murid. Bagaimanapun juga tanggung jawab pendidikan anak, ada pada masing-masing orang tua. Sekolah maupun TPA hanyalah sarana untuk mempermudah bagi orang tua untuk menjalankan tanggung jawabnya.

Dengan kerjasama yang baik antara TPA dan orang tua murid, maka bukan tidak mungkin, Insya Allah kita akan mampu mencetak jagoan-jagoan yang banyak, jagoan-jagoan yang mampu menggapai puncak prestasi. Kita dapat menjadikan TPA sebagai titik awal untuk memupuk anak-anak kita, melatih anak-anak kita untuk dapat menjadi jagoan yang mampu mencapai puncak prestasi yaitu Puncak Prestasi Muslim, menggapai derajat taqwa.

Semoga, Allah memberikan kemudahan kepada seluruh orang tua dalam mendidik putera puterinya baik di rumah maupun melalui TPA dan Allah memberikan kesabaran kepada para guru agama Islam agar selalu istiqomah, dan semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah, menggapai derajat taqwa, amin.

Wallahu ‘alam bish showab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s