Dicari, Peserta Lomba

Pekan lalu, ketika saya baru membuka file inbox di email saya, mata saya tertuju pada kiriman surat elektronik yang judulnya cukup menggelitik. Judul surat elektronik yang saya terima dari salah seorang teman lama saya adalah: “Dicari Peserta Lomba”. Ada perasaan bingung juga ketika membaca judul tersebut, karena saya yakin teman saya itu sangat mengenal saya dan dia mengetahui bahwa saya bukanlah seorang atlet atau termasuk orang yang suka berlomba.

Tenyata isi email dari teman saya tersebut jauh dari bayangan saya sebelumnya tentang olah raga atau lomba-lomba dalam rangka tujuhbelasan. Email dari teman saya itu isinya adalah sebuah ajakan kepada  semua orang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, utamanya dengan menyembelih hewan kurban pada bulan haji tahun ini.

Sepintas, ajakan tersebut sangat amat sederhana bahkan terasa usang karena sudah sangat seringnya kita mendengar ajakan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap sholat Jumat kita mendengar khotib mengajak seluruh kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Akan tetapi ajakan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan tersebut memiliki makna khusus dikaitkan dengan pelaksanaan kurban.

Makna khusus dalam pelaksanaan kurban dapat kita rasakan tatkala kita mengingat sejarah Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam bersama puteranya yaitu Nabi Ismail ‘alaihi sallam. Sebuah bentuk ketaatan kepada Allah yang tidak terhingga ditunjukkan dan dicontohkan oleh kedua Nabi tersebut. Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam sebagai seorang ayah yang sangat mencintai puteranya mendapatkan ujian yang sangat berat dari Allah yaitu diperintahkan untuk menyembelih puteranya sendiri. Untuk ukuran kita masyarakat biasa dengan kadar keimanan yang belum tebal, jangankan menyembelih anak sendiri, melihat anak kita terluka karena jatuh-pun terasa tersayat hati ini. Bahkan untuk sebagian orang tua tidak berani secara langsung menyaksikan anaknya dikhitan atau dibedah.

Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam bersama puteranya yaitu Nabi Ismail ‘alaihi sallam adalah pelajaran tentang ketaatan kepada Allah dan kesabaran.

Ketaatan menjadi salah satu kata kunci yang patut kita teladani dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam dan Nabi Ismail ‘alaihi sallam dalam arti bahwa ketika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk melaksanakan suatu ibadah dan tidak ada satupun halangan yang menghadang kita untuk melakukannya, maka sudah sepatutnya kita bersegera untuk melaksanakan perintah tersebut.

Ibadah haji dan kurban merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat ini kita tidak diperintah untuk menyemelih anak-anak kita tetapi kita diperintahkan untuk beribadah haji dan melaksanakan kurban. Ibadah haji hukumnya wajib bagi yang mampu sedangkan kurban adalah sunnah muakkadah. Ketentuan “wajib bagi yang mampu” dan “sunnah” jangan sampai menghalangi niat kita untuk beribadah haji atau kurban.

Untuk ibadah haji, ketentuan “wajib bagi yang mampu” jangan sampai dijadikan alasan pembenaran atau legitimasi bagi kita untuk tidak beribadh haji. Disinilah diuji ketaatan kita kepada Allah, sejauh mana kita memiliki ketaatan kepada Allah. Dengan alasan belum mampu secara harta (biaya) dan ilmu, seseorang enggan berangkat untuk ibadah haji. Alasan harta seolah menyiratkan bahwa haji itu hanya untuk orang yang kaya raya saja. Alasan belum cukup ilmu seolah menyiratkan bahwa ibadah haji itu hanya untuk kalangan ustadz atau kyai saja. Jika kita mau mengukur secara matematik, biaya ibadah haji adalah biaya yang sudah terukur atau dapat diperkirakan. Dengan “modal” kurang dari lima puluh juta Rupiah sebenarnya seseorang sudah dapat berangkat ke tanah suci, bahkan nilai tersebut-pun masih terlalu besar jika niat kita semata-mata untuk ibadah, bukan untuk belanja atau pamer. Bandingkanlah sekarang dengan harta yang dimiliki oleh sebagian muslim yang mampu, rumah lebih dari satu, kendaraan minimal satu mobil dan satu sepeda motor, penghasilan jauh di atas Upah Minimum Propinsi, bahkan kadang memiliki penghasilan tambahan diluar gaji. Jika dihitung maka nilai satu mobil saja sudah melebihi biaya untuk ibadah haji. “Wah…mobil saya ini memang benar harganya diatas seratus juta Rupiah, tapi saya mencicil setiap bulan, bukan beli kontan, karena saya tidak mampu beli kontan”, demikian kira-kira alasan yang dapat muncul. Yag menjadi pertanyaan adalah, kita mampu dan berani mencicil atau hutang dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita, tetapi untuk urusan ibadah haji tidak terpikirkan oleh kita untuk menabung. Padahal, saat ini pemerintah memberikan kemudahan dalam mempersiapkan biaya ibadah haji yaitu dengan cara membuka tabungan haji pada bank-bank yang ditunjuk pemerintah. Menabung untuk biaya ibadah haji memberikan kesempatan kita untuk beribadah haji, setidaknya niat kita untuk ke tanah suci sudah diwujudkan dalam bentuk nyata yaitu menabung. Yang namanya menabung, tentunya uang tersebut adalah uang yang kita sisihkan setelah seluruh kebutuhan pokok bulanan kita terpenuhi.

Jika kita belum cukup ilmu agama, tentunya itu hal yang wajar karena tidak semua muslim lulusan pesantren atau perguruan tinggi Islam. Untuk beribadah haji, kita tidak dituntut untuk memiliki ilmu sekaliber ustadz atau kyai. Kita memang wajib memiliki ilmu tetang sholat, puasa dan terutama ilmu tentang manasik haji, akan tetapi kewajiban tersebut tidaklah menjadikan kita harus seperti ustadz. Setiap hari kita berproses dalam menuntut ilmu agama, berkembang dan semakin lama semakin bertambah pemahaman kita tentang Islam. Jika kita rela menghabiskan waktu dan uang untuk kursus kepribadian atau kursus manajemen, mengapa kita tidak alokasikan waktu kita untuk belajar Islam?

Demikan juga dengan ibadah kurban, sudah sepatutnya bagi muslim yang memiliki kelebihan harta untuk selalu “menyisihkan” hartanya untuk berkurban sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah. Meskipun hukum kurban adalah sunnah, Insya Allah manfaat kurban melebihi kenikmatan yang kita peroleh apabila uang kita hanya kita belanjakan untuk kepentingan duniawi.

Harga hewan kurban yang paling murah rata-rata tujuh ratus lima puluh ribu Rupiah. Jika kita terasa berat untuk mengeluarkan uang sekaligus pada bulan dzulhijjah, sesungguhnya kita bisa menabung untuk membeli hewan kurban. Jika setiap bulan kita mau menyisihkan sebesar Rp 62.500,-  dari kelebihan uang kita untuk kurban, maka dalam 12 bulan akan terkumpul Rp 750.000,- dan kita sudah dapat berkurban pada bulan dzulhijjah. Uang sebesar Rp 62.500,- jika kita bagi dalam 30 hari adalah Rp 2.083,-. Uang sebesar Rp 2.083,- perhari tentunya tidak terasa berat jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk membeli sebungkus rokok.

Pemaparan mengenai angka-angka diatas tidak dimaksudkan untuk menggurui apalagi memvonis keimanan seseorang. Pemaparan di atas semata-mata hanya untuk membantu kita semua dalam mencari akar masalah mengenai hambatan-hambatan yang membuat kita engan ibadah haji dan kurban. Kadang-kadang kita menganggap suatu hal sebagai hambatan, padahal sesungguhnya bukan hambatan. Setelah akar masalah kita ketahui, maka kita tentukan penyelesaian masalahnya (problem solving). Dalam kasus di atas, akar masalahnya adalah ketidakpahaman kita tentang persiapan ibadah haji yaitu mengenai biaya dan ilmu agama dan pemecahannya adalah membuka tabungan haji dan belajar agama tahap demi tahap. Untuk kurban, pemecahan masalah adalah dengan cara menabung khusus untuk membeli hewan kurban.

Jika kita sudah memiliki niat untuk beribadah haji atau kurban dan sudah mewujudkan niat tersebut dengan langkah nyata seperti menabung misalnya, maka keputusan akhirnya kita serahkan kepada Allah. Allah-lah sebagai pemberi keputusan atas niat kita beribadah. Allah yang menentukan tahun berapa kita angkat berangkat ke tanah suci, kewajiban kita adalah niat dan berusaha mewujudkan niat tersebut. Jika kita lapar, maka kita wujudkan keinginan untuk makan dengan cara mencari nafkah,  jika kita sakit, kita wujudkan keinginan tubuh kita dengan segera mencari dokter. Kita tidak pernah mengetahui hasilnya apakah kita berhasil memperoleh uang ketika mencari nafkah atau kita berhasil sembuh setelah menemui dokter, hanya Allah yang memberikan rizqi dan kesembuhan kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan bagi kita untuk beribadah.

Wallahu ‘alam bishshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s