Kriteria Calon Presiden dan Wakil Presiden

Tahun depan Insya Allah kita akan memilih presiden dan wakil presiden baru. Memilih presiden dan wakil presiden merupakan hak warga Negara. Hak warga negara untuk memilih tersebut meliputi juga hak untuk menentukan kriteria presiden dan wakil presiden yang akan dipilihnya. Meskipun peraturan perundangan-undangan telah menentukan persyaratan, bukan berarti kita tidak bisa menentukan kriteria sendiri. Dalam hal ini saya menggunakan prinsip “pembeli adalah raja”. Sebagai pembeli saya berhak menentukan sendiri kualitas “barang” yang mau saya beli.

Berikut ini adalah kriteria saya secara pribadi dalam menentukan calon presiden dan wakil presiden. Bagi yang tidak setuju dengan kriteria saya, jangan marah. Bagi yang masih menimbang-nimbang, mungkin kriteria ini bisa dijadikan alat bantu.

Kriteria Presiden dan Wakil Presiden pilihan saya, antara lain:

1.                  Memahami dengan benar bahwa jabatan yang akan diembannya adalah sebuah amanah.

Menemukan presiden dengan kriteria ini cukup sulit karena ini menyangkut rahasia hati. Tetapi track record dan pernyataan-pernyataan sang calon dapat dijadikan tolok ukur awal. Memiliki ambisi memang diperlukan, tetapi ambisi yang tidak semata-mata ditujukan pada jabatan. Ambisi tersebut harus berujung pada keinginan untuk mensejahterakan masyarakat lahir dan batin. Presiden yang menyadari jabatannya sebagai amanah, Insya Allah dia akan takut untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum Allah, misalnya korupsi, dan berani untuk bertindak dalam rangka menegakkan hukum Allah.

Presiden dan Wakil Presiden pilihan saya harus mampu menjaga amanah.

2. Dapat membedakan antara Hak Asasi Manusia dan penyimpangan atau kesesatan

Hak Asasi Manusia (HAM) sekarang ini sudah menjadi berhala baru bagi sebagian masyarakat Indonesia. Meskipun tidak disembah dalam bentuk disujudi sebagaimana layaknya berhala dalam bentuk patung, HAM telah dijadikan sebagai sesuatu yang tidak terbantahkan, sehingga apapun yang bertentangan dengan HAM maka ia harus ditolak. Pemberhalaan terhadap HAM bahkan telah menandingi kepatuhan manusia terhadap kebenaran yang berasal dari Allah. Kita memang harus menjunjung tinggi HAM, tetapi HAM yang kita junjung adalah HAM yang bersumber dan berdasarkan aturan Allah.

Seorang presiden harus mampu membedakan HAM dengan penyimpangan. Seseorang atau sekelompok orang yang mengusung kesesatan dilarang menyebarkan kesesatannya kepada orang lain yang tidak sesat. Sebagai contoh, ajaran Ahmadiyah adalah ajaran sesat menurut pandangan Islam berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah. Tidak ada relevansinya antara HAM dengan menyesatkan orang lain dan menghina agama lain. Dalam konteks memilih agama, berdasarkan HAM, setiap orang berhak untuk memilih agama dan keyakinannya masing-masing, termasuk untuk memilih Ahmadiyah sebagai agamanya bahkan berhak untuk tidak beragama. Tetapi ketika seseorang telah memilih Ahmadiyah sebagai agamanya, maka dia tidak boleh menyebarkan kesesatannya kepada orang lain. Menyebarkan agama Ahmadiyah berarti menyebarkan kesesatan dan menghina Islam.

Seorang presiden dan wakil presiden pilihan saya, harus berani tegas untuk melarang setiap bentuk kesesatan dalam beragama.

3. Dapat membedakan antara kebebasan berekspresi dengan menjaga kehormatan

Kebebasan berekspresi sebagai bagian dari penyalahgunaan HAM telah membunuh rasa malu seseorang dan menyuburkan sikap “semau gue“. Seseorang boleh berekspresi tetapi tetap dalam bingkai kehormatan sebagai manusia bermartabat. Manusia bermartabat akan malu tatkala anggota tubuhnya yang wajib ditutupi menurut kebiasaan wajar, terlihat oleh orang lain.

Dengan alasan apapun juga, tidak sepantasnya seseorang memamerkan anggota tubuhnya dalam bentuk ketelanjangan atau setengah telanjang kepada umum. Dalam kondisi tertentu memang dimungkinkan seseorang berpakaian yang agak terbuka di depan orang lain seperti misalnya di arena olah raga, karena sifat dan bentuk olahraganya yang “memaksa” seseorang berpakaian agak terbuka.

Presiden dan wakil presiden pilihan saya adalah seseorang yang dirinya beserta keluarganya (suami atau isteri, dan anak) mampu menjaga kehormatan dalam berpakaian dan mampu membatasi diri dalam menilai suatu ekspresi. Sang presiden dan wakil presiden beserta keluarganya (suami atau isteri, dan anak) harus mendukung setiap upaya untuk membatasi bahkan menghapuskan pornografi, bukan yang mendukung penolakan RUU Pornografi

4. Tidak bergantung pada mistik dan klenik

Dalam upaya bersaing dengan masyarakat dunia di era yang demikian canggih, maka seorang presiden harus berpikiran terbuka terhadap teknologi dan mampu menggali unsur alam dalam batas-batas yang rasional untuk kemakmuran rakyatnya.

Ketergantungan seseorang pada mistik, klenik, perdukunan, primbon dan sejenisnya hanya akan menambah keterpurukan bangsa ini karena setiap keputusan sang presiden harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari dedemit, dukun, penasihat spiritual dan sejenisnya.

Presiden dan wakil presiden pilihan saya hanya boleh mempercayai dan meyakini hal gaib jika informasi kegaiban tersebut bersumber dari wahyu Allah.

5. Mempunyai harga diri sebagai pemimpin dari bangsa yang besar

Rasa sedih sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar adalah tatkala bangsa ini tidak mampu berdiri dengan wajah tegak dihadapan bangsa-bangsa lain. Saya sudah sangat merindukan akan hadirnya seorang presiden dan wakil presiden yang mampu berkata “tidak” pada tekanan negara lain yang merugikan bangsa Indonesia. Kasus Ambalat, kasus Namru II merupakan contoh-contoh betapa sulitnya untuk berdiri tegak dan menjadi bangsa yang dihargai.

6. Mengedepankan kesejahteraan masyarakat dibandingkan dengan kesejahteraan segelintir pejabat

Kesejahteraan mansyarakat lahir dan batin merupakan tugas seorang presiden dan wakil presiden. Presiden dan wakil presiden harus memiliki kemampuan untuk mendayagunakan kekayaan yang ada di Indonesia untuk kesejahteraan rakyatnya. Ketika masyarakat sedang kesulitan ekonomi, presiden dan wakil presiden harus berani mempelopori dan menginstruksikan pejabat di bawahnya untuk hidup hemat dan sederhana.

7. Menjadikan pendidikan sebagai gerbang kemajuan

Saya pernah mendengar bahwa dulu banyak mahasiswa asing terutama Malaysia yang belajar di Indonesia, tetapi sekarang keadaan tersebut tidak terjadi lagi. Presiden dan wakil presiden harus mampu menciptakan pendidikan yang baik dan murah dan menjadikan pendidikan sebagai primadona dan daya tarik Indonesia di mata asing sehingga akan sangat bangga jika Negara kita disebut “Negara Pelajar”. Dengan bekal pendidikan yang baik maka akan muncul generasi-generasi yang cerdas dari bangsa ini.

8. Sejauh mungkin tidak menggantungkan diri pada Negara lain

Memang benar selama kita hidup di dunia kita akan saling membutuhkan dengan negara lain. Tetapi, kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah bangsa kita sangat bergantung pada Negara lain dalam banyak hal. Kita punya pesawat tempur buatan asing, ketika pesawat rusak, kita diambargo sehingga tidak dapat membeli suku cadang.

Presiden dan wakil presiden pilihan saya harus yang mampu menjadikan bangsanya sebagai bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.

Itulah antara lain kriteria saya tentang seorang presiden dan wakil presiden. Saya tidak pernah mengarahkan kriteria tersebut pada seseorang yang sekarang sedang duduk di pemerintahan atau di jabatan publik lainnya, karena saya sendiri kesulitan mencari figure yang sama persis dengan kriteria tersebut. Mungkin ada yang bertanya, biasanya ada syarat “taqwa” dalam setiap kriteria jabatan, tetapi kenapa tidak saya cantumkan? Saya sengaja tidak mencantumkan karena saya anggap taqwa adalah hal mendasar yang harus dimiliki oleh setiap orang tanpa memandang jabatan.

Akan tetapi, di pemilu nanti, apabila figure yang tampil tidak sama persis dengan kriteria saya, setidaknya saya akan memilih yang paling mendekati.

 

One thought on “Kriteria Calon Presiden dan Wakil Presiden

  1. Setuju apalalagi calonnya dari generasi muda, karna pada era terdahulu para pemimpin kita relatif berusia muda yang masih punya pemikiran segar dan idealisme yang tinggi serta semangat kebangsaan yang besar dan belum terkontaminasi oleh politik kepentingan golongan…. Lebih setuju lagi kalau penulis yang mencalonkan diri, saya setuju banget dan siap jadi tim suksesnya.

    =====
    Bang Rana,
    Kalau saya levelnya baru cocok untuk jadi pengamat kelas kampung, belum cocok jadi capres. Mengurus anak dan istri saja masih kerepotan, apalagi ngurus negara.

    Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s