RUU Pornografi dan Islamisasi

Pro dan kontra atas Rancangan Undang-undang Pornografi belum juga berhenti. Para penolak RUU Pornografi, yang jumlahnya minoritas, semakin giat mencari argumentasi-argumentasi baru, tidak peduli apakah argumentasi tersebut dangkal atau dalam, yang penting bagi para penolak adalah satu kata “tolak”. Ada satu argumentasi dari para penolak RUU Pornografi yang patut dicermati adalah bahwa RUU Pornografi “berbau Arab”, atau RUU Pornografi ini adalah untuk kepentingan “kelompok tertentu”. Kita dapat meraba bahwa yang dimaksud “kelompok tertentu” tidak lain adalah Islam. Inilah bagian utama dari penolakan tersebut yaitu gejala “Islam Phobia”, ketakutan akan sesuatu yang bernilai Islam atau bersumber dari Islam.

Jika argumentasi yang berlandaskan Islam dianggap sebagai upaya Islamisasi, maka marilah dengan pikiran jernih kita coba membedah RUU Pornografi tersebut dari sudut pandang kenegaraan dan sosial kemasyarakatan.

A. Pornografi-Pornoaksi adalah Termasuk Wilayah Publik

Para penolak RUU Pornografi menggolongkan masalah pornografi dan pornoaksi adalah masuk dalam wilayah privat/pribadi sehingga negara tidak berhak campur tangan dalam masalah tersebut. Pendapat tersebut jelas sangat tidak tepat karena meskipun hal-hal porno tersebut bersumber dari tubuh individu-individu, pada saat yang sama individu tersebut berinteraksi dengan individu lain (masyarakat). Misalnya, setiap orang bebas telanjang bulat mengagumi tubuhnya sendiri, tetapi pada saat dia keluar rumah dia akan berinteraksi dengan masyarakat dan masyarakat berhak protes atas ketelanjangan tersebut yang dapat berakhir pada suatu konflik masyarakat. Disinilah peran negara yaitu mencegah atau menyelesaikan konflik antar masyarakat dengan cara membuat peraturan yang dapat menghindarkan masyarakat dari terjadinya konflik, dalam hal ini berupa RUU Pornografi. Tugas melindungi masyarakat adalah tugas negara yang dijamin oleh konstitusi. Dengan demikian pornografi dan pornoaksi masuk dalam ruang lingkup wilayah publik.

B. UU Pornografi Bertujuan Melindungi Masyarakat

Semakin hari semakin banyak kita disuguhi dengan berita-berita penyalahgunaan nafsu syahwat disegala lapisan masyarakat. Ada VCD mahasiswa Bandung, Pesta Sex SMU Cianjur, Skandal Sex Anggota DPR dan lain-lain. Bahaya HIV/AIDS juga masih ada di sekitar kita. Akankah kita menutup mata dan telinga dengan semua kejadian tersebut? Akankah kita membiarkan penyalahgunaan nafsu syahwat tersebut terus terjadi sambil tetap bangga dengan slogan-slogan kebebasan? Dimana nurani kita saudaraku? Masihkah diperlukan penelitian untuk mencari penyebab penyalahgunaan nafsu syahwat dikalangan pelajar? Tidak cukupkah fakta bahwa begitu mudahnya pelajar-pelajar kita memperoleh VCD porno atau setengah porno dan mempraktekannya dengan temannya? Jika alasan para penolak RUU Pornografi bahwa masalah media porno telah diatur tersendiri dalam KUHP dan UU Pers, haruskah setiap hari polisi merazia peredaran media porno, dan mengapa tidak kita cegah dari sumber keberadaan media tersebut yaitu berupa pelarangan segala bentuk pornografi dan pornoaksi?

UU Pornografi justru dibuat untuk mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan moral yang terjadi akibat penyalahgunaan nafsu syahwat.

Saudaraku, bukankah isteri-isteri kita, suami-suami kita, anak dan cucu kita juga bagian dari masyarakat yang ingin dilindungi dengan UU Pornografi tersebut? Lalu mengapa harus berpanjang dalih menolaknya? Kita seharusnya bersyukur karena negara kita dalam keterpurukannya diberbagai bidang, di tengah maraknya aksi korupsi dan terorisme masih sempat memikirkan moral bangsa ini.

C. UU Pornografi Bertujuan Melindungi Martabat Perempuan

Para penolak RUU Pornografi menyatakan bahwa RUU Pornografi telah menempatkan perempuan sebagai pihak yang dirugikan karena (kata mereka) dalam RUU tersebut perempuan dianggap sebagai penyebab dari semua masalah pronografi dan pornoaksi. Argumentasi tersebut jelas dangkal dan mengada-ada karena tidak melihat pada substansi RUU Pornografi dan substansi permasalahan sosial yang ada. Suka atau tidak suka, tanpa adanya UU Pornografi-pun perempuanlah pihak pertama yang menjadi korban dari pornografi dan pornoaksi. Dalam pornografi dan pornoaksi seringkali perempuan dijadikan objek kepornoan. Lihat saja jika dalam suatu iklan kendaraan bermotor ternyata dibintangi oleh perempuan berpakaian minim. Apa hubungannya kendaraan dengan perempuan berpakaian minim? Bukankah hal ini sebagai wujud eksploitasi terhadap perempuan. Sadarkah saudariku…bahwa perempuan dalam media-media tersebut hanya dijadikan objek, hanya dijadikan pemuas syahwat mata para lelaki. Dimana letak kebanggaan perempuan jika laki-laki hanya memandang perempuan dari segi sensualitas tubuh semata? Bagaimana perasaan kita jika anak perempuan kita dipandang oleh laki-laki hanya dari sudut syahwat? UU Pornografi dibuat sebagai upaya menghilangkan faktor-faktor yang menjadikan perempuan sebagai objek pemuas syahwat. Perempuan harus ditempatkan sebagai manusia bermartabat, karena kita semua dilahirkan dari seorang ibu yang juga perempuan.

D. UU Pornografi Tidak Menghambat Kebebasan Berekspresi

Kata-kata kebebasan berekspresi sering membelenggu kita sehingga nilai-nilai moral bahkan agama seringkali harus dikalahkan. Jika dilihat dari substansi RUU Pornografi tidak ada penghambatan terhadap ekspresi masyarakat baik itu seni, budaya maupun olahraga. Golongan masyarakat yang merasa akan terhambat dengan keberadaan RUU Pornografi adalah golongan masyarakat yang menempatkan ketelanjangan tubuh dan goyang erotis sebagai menu utama ekspresinya. Selama ini kita tidak pernah memprotes para atlet renang yang sedang berlomba di kolam renang, tetapi kita akan protes jika ada foto model yang berakting di kolam renang berpakaian renang untuk ditampilkan dalam suatu kalender misalnya. Meskipun di kolam renang layak berpakaian renang, tetapi fungsinya adalah jelas untuk berenang bukan untuk pamer dalam suatu media foto. Kita juga tidak pernah memprotes saudara-saudara kita di Papua yang mengenakan koteka karena hal itu merupakan bersumber dari budaya yang sudah turun temurun dan pemakaian koteka tersebut sejauh ini hanya terbatas pada lingkungannya saja. Tetapi pantaskah bila ada anggota masyarakat yang berjalan-jalan di tengah kota memakai pakaian minim?

E.UU Pornografi Bukan Agenda Tersembunyi Kelompok Islam

RUU Pornografi merupakan karya bersama seluruh komponen masyarakat. Jika seandainyapun gagasan munculnya RUU Pornografi tersebut berasal dari ummat Islam, tentunya hal tersebut adalah wajar sebagai konsekuensi dari jumlah ummat Islam yang terbesar di negeri ini. Sebagai jumlah terbesar di negeri ini bukanlah hal yang mengherankan jika beberapa gagasan dalam pembuatan perundang-undangan muncul dari kalangan ummat Islam yang duduk di pemerintahan maupun di DPR. Sejak masa orde lama sampai dengan saat ini mayoritas pejabat pemerintah maupun anggota DPR adalah muslim sehingga bukan hal aneh jika gagasan perundang-undangan secara otomatis muncul dari kalangan muslim, apapun jenis perundang-undangannya. Sebagai contoh, Pancasila dan UUD 1945 atau UU Agraria juga atas gagasan pemerintah dan DPR yang mayoritasnya muslim, lalu mengapa khusus RUU Pornografi ini dicurigai sebagai agenda tersembunyi ummat Islam?

Jika memang sebagian besar materi yang tercantum dalam RUU Pornografi tersebut cocok dengan nilai-nilai Islam, maka hal tersebut bukan berarti Islamisasi. Apabila ternyata materi RUU tersebut cocok dan sejalan dengan pandangan Kristen, Hindu, Budha atau agama lainnya, apakah bisa dikatakan jika RUU tersebut sebagai kristenisasi, atau hinduisasi?

Selain itu, anggapan para penolak RUU Pornografi yang menyatakan bahwa RUU Pornografi adalah Islamisasi sangat dangkal dan menunjukkan kedangkalannya tentang Islam. Murid-murid TK Islam pun mengerti tentang batasan aurat menurut Islam. Silakan buka rujukan Islam tentang batasan aurat. Silakan buka Al-Qur’an, hadits dan Fatwa para Ulama tentang batasan aurat. Jika RUU Pornografi benar-benar didasarkan pada ajaran Islam, maka seharusnya dalam RUU tersebut seluruh perempuan diwajibkan memakai jilbab karena dalam Islam perempuan diwajibkan memakai jilbab. Tetapi apakah demikian? Tidak ada satu pasalpun dalam RUU tersebut yang mewajibkan perempuan Indonesia memakai jilbab atau melarang perempuan Indonesia keluar rumah tanpa jilbab. Lalu dimana letak ajaran Islamnya? Jika demikian, apakah pantas bila RUU tersebut dianggap Islamisasi?

Lalu kenapa Islam yang menjadi “kambing hitam”? jawabannya adalah karena Islam saat ini merupakan sasaran tembak yang paling mudah. Ketika isu terorisme sedang merebak maka simbol-simbol Islam dilekatkan dengan isu tersebut sehingga ada phobia masyarakat terhadap sesuatu yang berbau Islam, termasuk masyarakat yang beragama Islam sendiri enggan atas sesuatu yang berbau Islam. Dengan ‘alerginya” masyarakat terhadap Islam maka RUU pornografi-pun dilekatkan dengan Islam agar alergi masyarakat ikut tertular pada RUU Pornografi. Jadi setiap ada pembahasan tentang pornografi maka dianggap sebagai Islamisasi yang harus ditolak. Siapa yang diuntungkan? Yang diuntungkan adalah para produsen industri pornografi yang menganggap Indonesia sebagai lahan subur peredaran pornografi. Menurut Ketua Pansus RUU Pornografi, Balkan Kaplale, sebagaimana dikutip oleh Hidayatullah.com, Australia dan Inggris mengincar RUU ini. Selain itu ada tujuh negara yang mengintai RUU ini diantaranya adalah Swedia, dan Denmark. Menurut negara-negara tersebut, Indonesia adalah pasar yang paling empuk untuk industri seks [baca: inggris-australia-diduga-recoki-ruu-pornografi. ]

Akhirnya, marilah dengan pikiran jernih kita mulai memikirkan masa depan kita, masa depan anak dan cucu kita agar mereka nantinya bisa hidup dalam lingkungan yang selalu menjaga nilai-nilai moral.

Dengan berpikir jernih dan tanpa prasangka buruk maka kita akan menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya meskipun kadang kebenaran tersebut merugikan kepentingan duniawi kita.

Wallahu ‘alam bishshawab

6 thoughts on “RUU Pornografi dan Islamisasi

  1. Assalamu’alaikum..
    Sebagai seorang wanita yg baru mulai belajar jadi muslimah yang baik, saya tertarik dengan kalimat”Sadarkah saudariku…bahwa perempuan dalam media-media tersebut hanya dijadikan objek, hanya dijadikan pemuas syahwat mata para lelaki. Dimana letak kebanggaan perempuan jika laki-laki hanya memandang perempuan dari segi sensualitas tubuh semata? Bagaimana perasaan kita jika anak perempuan kita dipandang oleh laki-laki hanya dari sudut syahwat?”
    Menurut bapak, bagaimanakah menyikapinya jika ternyata saya yang sudah berbusana tertutup, tebal, longgar plus jilbab masih menjadi sasaran mata keranjang?
    Jangan disuruh melawan ya.. pak… karena saya sangat penakut.. saya harap bapak bersedia menjawab..
    Terima kasih

    ‘Afuwwun Ahwan

    ====
    Wa’alaikumussalam

    Kalimat yang saya tulis tersebut sebenarnya dimaksudkan sebagai himbauan sekaligus renungan bagi sebagian wanita yang mungkin karena ketidaktahuannya akan batas-batas aurat dengan sengaja dan senang memperlihatkan bagian tubuhnya ke publik. Dalam “kasus” yang Mba tanyakan, menurut saya yang lemah pengetahuan agamanya, sebaiknya Mba bersabar dan tawakal kepada Allah atas “gangguan pandangan” tersebut. Secara hukum positif, sebenarnya Mba bisa saja melakukan tuntutan hukum (disertai bukti-bukti) jika pandangan nakal tersebut sudah mengganggu kenyamanan Mba, hanya saja sebagaimana yang Mba katakan, Mba tidak mau melawan. Hal ini bisa jadi sebagai ujian bagi Mba. Jika Mba kurang sabar kemungkinan setan akan membisikkan kata-kata: “tuh..kan, ga ada gunanya pakai jilbab rapat, buktinya masih juga dipelototin sama pria, lebih baik buka aja jilbabnya sekalian !“. Bahkan yang lebih berbahaya lagi, jika bisikkan setan itu berupa kebanggaan, misalnya: “Wah..ternyata tubuhku masih menarik juga ya…, ditutupi saja masih banyak yang melirik, apalagi kalau aku buka jilbab pasti makin banyak yang suka”. Jadi menurut saya Mba harus sabar atas segala gangguan dan anggaplah itu sebagai ujian keimanan. Sabar itu ada 3 yaitu: (1) sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah; (2) sabar dalam meninggalkan kemaksiatan; (3) sabar dalam menghadapi cobaan.

    wallahu ‘alam

    Ismail Marzuki

  2. APA SEBABNYA BANGSA INDONESIA MENDUKUNG RUU ANTI ORNOGRAFI
    UNTUK MELINDUNGI ANAK CUCU BUMI PERTIWI INI
    ==========================================================
    LIHAT SERANGAN MISI MEREKA (ZIONIS) INI :

    “Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum Muslimin beralih agama menjadi orang Kristen atau Yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam… Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya,senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya semata utk memuaskan hawa nafsunya”
    (Pidato Samuel Zwemmer, tokoh Yahudi, dalam Konferensi Missi Zionis di Yerusalem, 1935)

    Lihat ini GEJALA DI INDONESIA…..dan konspirasi zionis busuk itu telah menguasai negri ini dengan menutup Departemen Penerangan dgn isu fitnah na’if yang seharusnya berfungsi unt MELINDUNGI KONSUMEN dari info MEDIA CORONG2 BUSUK ini.
    Gejala di Indonesia yang di sponsori oleh JAWA POS GROUP Melalui HARIAN LAMPU MERAH (LAMER) …bukti : Edisi 25 Agustus 08
    http://serbuiff.multiply.com/photos/album/32

    lihat seperti ini hasil mereka di dunia non muslim (BARAT/ Kristen) …click :

    http://serbuiff.multiply.com/photos/album/35/PRESTASI_LUAR_BIASA_DARI_SISTEM_NEGARA_SEKULER_BUGIL_MASSAL

  3. kita seharusnya prihatin atas keadaan ini, bahwa indonesia yg mayoritas muslim justru menolak RUU pornografi. tapi bagi kita yg peduli jangan pernah surut akan perjuangan ini, paling tidak anak2 kita akan melihat bahwa sebenarnya masih banyak orang yang memikirkan nasib bangsa ini dari kerusakan moral. jangan pernah berhenti meneriakkan hal ini. paling tidak Tuhan tahu kita pernah berbuat sesuatu untuk kemaslahatan orang banyak. saya ikut mendukung anda. semoga sukses

    =======

    Terima kasih. Semoga seluruh komponen masyarakat menyadari pentingnya UU Pornografi ini. UU ini tidak hanya untuk kepentingan satu pemeluk agama saja, tetapi semua agama saya yakin menghendaki umatnya memiliki moralitas yang baik. Lebih baik mencegah terjadinya kerusakan daripada memperbaiki sesuatu yag sudah rusak

    Ismail Marzuki

  4. kepada Yth. Bapak2 & Ibu2 Wakil Rakyat.
    Sudah…segera dijadikan saja RUU Pornografi menjadi UU, kalau masih ada yang berkomentar (dari dalam), ketok saja sesuai dengan jadwal, kalau perlu sekali, laksanakan buah Demokrasi yaitu Voting. Kita perlu UU itu…
    Terima Kasih.

    ====
    Betul,
    Semoga para wakil rakyat segera menuntaskan RUU ini

    Ismail Marzuki

  5. masalah moral,….

    menurut penelitian yang dilakukan grup riset di Cornell yang dikemukakan saat konferensi Indonesianist di kawasan Timur Laut USA (18 Okt) terungkap bahwa, masyarakat Indonesia hanya menempatkan perbaikan moral pada urutan terbawah (2%). Urutan yang teratas masih didominasi masalah perekonomian.

    salam,

    http://excitonindo.wordpress.com/

    ====

    Jika penelitian itu valid, kita bisa bayangkan betapa sulitnya menjaga putra-putri kita dari bahaya pornografi.

    Terima kasih atas comment-nya

    Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s