Masjid Ramadhan

Suatu hari pada awal Ramadhan, para pengurus masjid sibuk dengan persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Sudah sekian kali menjalani Ramadhan, sekian kali pula pengurus berusaha memberikan fasilitas terbaik bagi jamaahnya, agar jamaah merasa kerasan dan betah dan berharap kembali lagi ke masjid untuk hari-hari mendatang. Jika pada hari-hari biasa diluar Ramadhan, cukup digelar dua shof karpet, maka hari itu semua perbendaharaan karpet masjid dikeluarkan dan digelar untuk menyambut jamaah.

Saat yang ditunggu-tunggupun tiba. Muadzin dengan suara merdunya mengumandangkan adzan Isya, menyampaikan undangan kepada seluruh manusia yang mengaku muslim agar datang ke masjid. Adzan kali ini bagi muadzin bisa saja dirasakan berbeda dengan adzan-adzan pada hari sebelumnya, karena adzan pada awal Ramadhan memiliki tingkat keberhasilan yang maksimum dalam meraih tanggapan jamaah. Selama hidupnya dalam melaksanakan tugas sebagai muadzin hanya pada awal Ramadhan saja ia berhasil mencapai prestasi terbaik mengundang jamaah. Alhamdulillah, awal Ramadhan masjid benar-benar penuh sesak oleh jamaah, bahkan meluber sampai ke halaman masjid seakan tidak ada satu jengkalpun tanah yang luput dari gelaran sajadah jamaah. Bergetar rasanya kalbu ini mendengarkan suara “aamiin” jamaah pada shalat di awal Ramadhan, betapa tidak, masjid yang selama ini sepi kembali hidup dan dirindukan oleh setiap orang. Pada saat Subuh, peristiwa yang sama terjadi pula, masjid penuh sesak. Subhanallah, betapa indahnya menjadi muslim disaat-saat seperti ini, melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid yang penuh sesak oleh jamaah yang berharap ridhlo Allah.

Akan tetapi perlahan tapi pasti, semakin bertambah bilangan Ramadhan masjid mulai ditinggalkan jamaahnya. Sejarah kembali terulang, siklus lama terjadi. Subuh di awal Ramadhan yang menggetarkan kalbu, menggugah ukhuwah, perlahan kembali menjadi Subuh-Subuh biasanya. Mengapa kita begitu mudah meninggalkan dan melupakan masjid? Mengapa kita hanya menengok masjid satu tahun sekali? Bukankah masjid itu dibangun untuk ibadah sepanjang tahun, bukan hanya Ramadhan?

Pada hari-hari biasa diluar Ramadhan, kita dapat menyaksikan sepinya masjid-masjid kita. Sedikit sekali orang yang hatinya terikat kepada masjid, padahal orang-orang yang hatinya terikat kepada masjid akan memperoleh perlindungan pada hari kiamat.

Keterikatan hati kepada masjid tentunya keterikatan yang didasarkan kecintaan kepada Allah dan dalam rangka mengingat Allah. Seseorang yang hatinya selalu terikat kepada masjid, maka ia akan selalu mengingat keberadaan Allah. Dimanapun ia berada, ia selalu merasa dalam pengawasan Allah. Sikap yang demikian akan berbuah menjadi sikap yang selalu berhati-hati dalam bertindak, menjaga segala macam perbuatannya dari perbuatan yang dilarang Allah. Jika kita hanya mampu merindukan masjid pada awal-awal Ramadhan saja maka hal ini menjadikan kita terlena dan terpesona dengan glamour dunia di luar masjid. Dunia di luar masjid memberikan pemandangan yang berbeda dengan masjid. Di luar masjid seakan setiap langkah kita hanya tertuju pada pemenuhan nafsu duniawi, mengejar segala ketertinggalan dalam hal keduniaan. Kita tidak dilarang untuk mencari dunia dan memenuhi kebutuhan duniawi kita, tetapi upaya pemenuhan kebutuhan duniawi tidak boleh membuat kita berpaling dari masjid. Di luar masjid sering kali kita menilai seseorang berdasarkan aksesori yang melekat pada dirinya. Pakaian kendaraan juga jabatan seseorang membuat kedudukan seseorang berbeda dari orang lainnya sehingga orang tersebut mendapatkan keistimewaan. Hal ini berbeda dengan lingkunagn masjid. Di masjid setiap orang sama kedudukannya, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Seorang rakyat jelata yang tiba lebih awal di masjid dia berhak menempati shaf terdepan, sedangkan seorang pejabat sekalipun jika dia datang belakangan maka tempatnya di shof belakang.

Pada awal Ramadhan kita semua telah berhasil meringankan langkah kaki kita menuju masjid, mengharap ganjaran berlipat ganda dari Allah. Lalu mengapa kita tidak mampu mempertahankan semangat kita datang ke masjid? Padahal demikian banyak pahala yang kita dapatkan bila berangkat ke masjid.

Bagi orang tua, semangat beribadah pada bulan Ramadhan ini juga kesempatan untuk memperkenalkan masjid kepada putera-puterinya. Yang penting bagi orang tua adalah membekali putera-puterinya dengan “aturan-aturan” untuk dapat menjaga tata tertib di masjid. Kita masih melihat masih banyak anak-anak yang berlarian kesana-kemari di masjid atau berteriak-teriak ketika shalat berjamaah sedang berlangsung. Sudah menjadi kewajiban kita bersama, terutama para orang tua untuk mendampingi putera-puterinya di masjid. Kenyataan yang ada adalah anak-anak sering ke masjid tanpa di dampingi orang tuanya. Ada beberapa alasan yang menjadikan anak-anak ke masjid tanpa orang tuanya, ada kemungkinan orang tuanya masih di kantor atau dalam perjalanan, ada kemungkinan orang tuanya sakit, atau mungkin orang tuanya belum merasa terpanggil dengan panggilan adzan. Apabila orang tua turut mendampingi putera-puterinya maka insya Allah pendidikan keagamaan dari orang tua kepada anak dapat berhasil karena sifat dasar anak-anak adalah mencontoh orang tuanya. Seorang anak yang selalu melihat orang tuanya membaca Al Qur’an, insya Allah dia akan menirunya. Seorang anak yang selalu melihat orang tuanya ke masjid Insya Allah akan lebih mudah bagi orang tuanya untuk mengajak sang anak ke masjid.

Kita berharap agar Ramadhan kita yang baru saja berlalu benar-benar menjadi Ramadhan yang berhasil yaitu menjadikan kita selalu terikat kepada masjid, selalu rindu mendatangi rumah Allah setiap hari meskipun di luar Ramadhan. Karena masjid kita dibangun bukan hanya untuk Ramadhan, tetapi untuk sepanjang tahun. Jangan jadikan masjid kita hanya sebagai “Masjid Ramadhan” yaitu masjid yang hanya diisi saat bulan Ramadhan.

Wallahu a’lam bishshowab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s