Ramadhan dan Idul Fitri, Mencari Kemenangan Hakiki (sebuah renungan di bulan Syawal)

Seolah berkata “ini loohhh saya lagi takbir, lagi syiar Islam …ga usah ditilang kalau ga pake helm…harus maklum kalau knalpot kenceng”. Yang lainnya juga seolah berkata “Kalau demi syiar kan boleh-boleh aja teriak-teriak pakai speaker masjid sampai malam… pakai bedug pun boleh khannn? Yang penting syiar masuk ke umat”.

Hari ini masih tanggal 3 Syawal 1429 Hijriah, suasana Idul Fitri masih terasa sangat kental terutama di daerah luar Jakarta. Sebenarnya ga ada bedanya Idul Fitri di daerah dengan di Jakarta. Perbedaannya cuma sedikit, kalau di daerah biasanya saling mengunjungi famili, tapi kalau di Jakarta kebanyakan yang ramai adalah tempat rekreasi. Coba saja lihat info dari Ragunan kemarin, sudah 150 ribu orang (baca: manusia) yang bersilaturahmi ke para hewan di Kebun Binatang Ragunan. Entah, mungkin karena memanfaatkan liburan atau memang sudah terpengaruh pada teori evolusi Charles Darwin mengenai asal muasal manusia sehingga Ragunan jadi ramai dikunjungi .…(he..he..he…untung aja saya bukan termasuk pendukung teorinya Darwin yang ngaco bin balau itu).

 

Prosesi Idul Fitri di Indonesia memang khas. Di Negara berpenduduk Islam lainnya, mungkin tidak ada yang namanya mudik (mungkin lhoo..!), tidak ada juga ketupat dan opor ayam, apalagi petasan. Di negeri kita, prosesi Idul Fitri sudah dimulai sejak awal Ramadhan tiba, ada yang mulai nyekar ke makam keluarga, ada yang berkirim sms atau email maaf-maafan. Di beberapa tempat di negeri kita juga ada kebiasaan menyambut Ramadhan berupa bersih diri dengan cara mandi bareng di sungai. Kalau tidak hati-hati acara mandi bareng itu bisa menjurus ke maksiat dan syirik. Bayangkan aja, niatnya mau bersih diri menyambut ramadhan, tapi caranya mandi bareng dempet-dempetan laki-laki dan perempuan di sungai….dan yang pasti, yang namanya mandi bajunya pasti basah dan nempel ketat di badan dan…dan…stop udah ga usah dibayangin. Kalau sudah begitu, apa iya bisa bersih? Fisiknya mungkin bersih, tapi hatinya gimana? Wallahu ‘alam.

 

Memasuki Ramadhan, lain lagi ceritanya. Suasana malam pertama tarawih, mirip pemutaran perdana film Ayat-Ayat Cinta…full house…membludak, yang datang terlambat ga bakal dapat tempat di masjid. Maklum, kalau diibaratkan kompetisi sepak bola, yang namanya babak penyisihan semua tim hadir dan bertanding. Tim lemah, tim sedang atau tim kuat sama-sama hadir di lapangan pada babak penyisihan. Pada sepertiga terakhir Ramadhan, kompetisi mulai ketat, Cuma tim tangguh yang masih bertahan di lapangan. Yaa..cuma orang yang tangguh yang masih bertahan di masjid pada sepertiga terakhir Ramadhan. Pada beberapa bagian masyarakat, Ramadhan juga dijadikan lahan untuk berlatih tempur. Biasanya ba’da subuh anak-anak tanggung mulai latihan tempur dalam wujud tawuran. Untuk tahun ini, persitiwa terbesar adalah tewasnya 6 orang yang terjun di danau sebagai hasil prosesi tawuran.

 

Puncak dari semua prosesi adalah menjelang dan ketika 1 syawal. Sebagian dari kita berharap agar Ramadhan cepat berlalu agar “belenggu” nafsu bisa terlepas. 1 Syawal menjadi hari yang dinati-nanti, pakaian baru menjadi tradisi, makanan melimpah menjadi keharusan. Malam takbiran seolah menjadi malam pelampiasan kita atas belenggu selama sebulan. Silakan ingat-ingat kembali cara kita bertakbir di masjid. Sedikit sekali masjid yang benar-benar khusyu dalam mengumandangkan takbir. Yang sering terdengar adalah takbir yang penuh teriakan, adu keras antara masjid yang satu dengan yang lain. Takbir memang disyariatkan, tapi cara kita selama ini yang tidak tepat, kita melupakan akhlaq dalam bertakbir. Takbir keliling dengan kendaraan bermotor seolah menjadi ajang unjuk kemerdekaan. Atas nama syiar Islam, kita melupakan akhlaq dalam bertakbir. Sejak ba’da Isya samapi tengah malam, TOA masjid ga istirahat dalam memuaskan dahaga orang-orang yang terlalu bersemangat dalam bertakbir. Seolah berkata “ini loohhh saya lagi takbir, lagi syiar Islam …ga usah ditilang kalau ga pake helm…harus maklum kalau knalpot kenceng”. Yang lainnya juga seolah berkata “Kalau demi syiar kan boleh-boleh aja teriak-teriak pakai speaker masjid sampai malam… pakai bedug pun boleh khannn? Yang penting syiar masuk ke umat”.

 

Waduh…. Sejak kapan Islam mengajarkan pelanggaran hukum dan mengganggu orang lain? Sejak kapan Islam mengajarkan boleh menganiaya diri sendiri. Bukankah ga pakai helm itu melanggar hukum? Bukankah ga pakai helm itu berbahaya untuk keselamatan diri yang artinya menganiaya diri sendiri? Apakah benar takbir di masjid sampai tengah malam dengan menggunakan speaker? Bagaimana dengan warga muslim yang sedang istirahat karena seharian bekerja keras, bukankah dia juga harus dihormati? Apalagi kalau ditinjau dari syariat Islam, benarkah cara-cara seperti itu dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam? “lhooo…waktu zaman Rasul kan belum ada load speaker, jadi wajar aja kalau zaman rasul ga pakai speaker”, begitulah kira-kira dalih dari para pecinta speaker. Memang benar, pada zaman Rasul belum ada speaker sehingga untuk adzan pun Sahabat Rasul yang bernama Bilal harus naik ke atap masjid untuk mengumandangkan adzan agar semua orang bisa mendengar seruan adzan. Jadi untuk keperluan syiar (adzan), Bilal perlu naik ke tempat yang tinggi agar suaranya di dengar. Kalau mau menggunakan analogi sederhana mengenai penggunaan speaker, maka cara berpikirnya seperti ini: karena zaman Rasul belum ada speaker maka logikanya Bilal dan sahabat-sahabat Rasul akan naik ke menara masjid untuk mengumandangkan takbir agar suara takbirnya di dengar seluruh masyarakat sedangkan pada zaman modern sekarang karena sudah ada speaker maka kita boleh teriak-teriak menggunakan speaker untuk takbir sebagai pengganti dari naik ke menara. Itu kalau kita main analogi. Tetapi pertanyaannya adalah: Ketika malam takbir tiba, apakah Bilal dan sahabat-sahabat Rasul yang lainnya naik ke tempat tinggi atau menara masjid untuk mengumandangkan takbir agar suara takbirnya di dengar sampai jauh demi syiar? Sepengetahuan saya yang awam dalam agama ini, belum pernah saya mendengar bahwa Bilal dan para sahabat naik ke menara untuk takbir. Artinya untuk takbir berbeda dengan adzan. Adzan dikumandangan dengan keras dengan tujuan untuk mengundang muslimin sholat, sedangkan takbir tujuannya sebagai pengagungan terhadap Allah. Jadi kalau toh mau bertakbir, silakan saja bertakbir sampai pagi, tetapi dengan khusyu, khidmat dan tenang. Tidak perlu memakai speaker luar, cukup speaker internal masjid. Tidak perlu teriak-teriak, toh Allah tidak tuli.

 

Memasuki Idul Fitri, seolah kita benar-benar tiba di babak final. Semua jadi serba boleh. Bersentuhan laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom pun seolah menjadi keharusan di suasana Idul Fitri. Bahkan di suatu masjid di kampung di Tasikmalaya tempat saya sholat Idul Fitri ada kebiasaan yang secara tradisi adalah benar dan baik tetapi secara syariat bertentangan. Di masjid tersebut setelah khotib selesai Khutbah, jamaah saling bersalaman yang dimulai dari shof sholat terdepan. Jamaah shof terdepan bergerak bersalaman menghampiri jamah disebelahnya dan terus sampai shof belakang berakhir. Masalahnya adalah setelah shof laki-laki habis, prosesi salaman dilanjutkan ke shof perempuan. Yang tadinya ada hijab, sekarang tidak ada lagi hijab. Laki-laki bersalaman dengan jamaah perempuan di barisan shof perempuan. Akhirnya, lagi-lagi kulit bertemu kulit. Niat baik, seharusya dibarengi dengan cara yang benar.

 

Prediksi saya, suasana Idul Fitri khas Indonesia ini akan berakhir pada tanggal 6 Syawal atau 6 Oktober bertepatan dengan hari pertama kerja. Setelah awal Syawal berakhir, biasanya kita atau sebagian dari kita kembali dalam rutinitas kita. Yang sebelumnya biasa korupsi, saat Ramadhan istirahat, setelah Syawal korupsi lagi. Kalau ga percaya, tanya saja KPK. Buktinya sebagai bangsa kita ini sudah puluhan tahun menjalani Ramadhan, tapi yang namanya korupsi ga habis-habis, bahkan makin canggih. Yang biasa ngerumpi, setelah Idul Fitri kembali mengaktifkan kembali majelis rumpi-nya, maklum sudah sebulan hasrat untuk ngomongin orang terpendam, padahal banyak bahan yang bisa dijadikan bahan ngerumpi. Yang sering bohong, kembali menemukan jati dirinya sebagai pembohong setelah Syawal berakhir. Beginikah potret masyarakat kita? Meskipun mungkin belum ada penelitian yang komprehensif mengenai tindak lanjut hasil “pendidikan Ramadhan” di Indonesia, setidaknya dari realita yang dapat kita tangkap dalam kehidupan bermasyarakt kita, “pendidikan Ramadhan” belum berhasil meluluskan sebagian alumninya dengan baik. Kita akui diantara murid “pendidikan Ramadhan” pasti ada yang lulus dengan predikat cum laude, bahkan yang berhasil memperoleh lailatul qadr. Tetapi tidak sedikit yang gagal dalam menghadapi ujian dan mengaplikasikan “pendidikan Ramadhan”. Bagi mereka yang gagal mengaplikasikan “pendidikan Ramadhan” dalam kehidupan pasca Ramadhan, kegagalan tersebut bukan karena kesalahan “kurikulum Ramadhannya”. Kurikulum dan silabus Ramadhan yang ditetapkan syariat sudah benar dan Insya Allah mampu meluluskan alumni yang baik. Masalahnya adalah ketika pendidikan sedang berlangsung, sang murid tidak benar-benar menghayati pendidikan dengan benar. Fisiknya hadir di tengah pendidikan Ramadhan, tetapi hatinya ada pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Puasa di siang hari hanya menahan lapar dan haus, hatinya tidak ikut berpuasa, pikirannya masih melanglang buana terbang memikirkan hasrat duniawi yang kadang cara memperoleh keduniawiannya bertentangan dengan spirit Ramadhan. Mulut dan lidah belum terbiasa menahan diri dari ucapan yang mengurangi nilai puasa meskipun mampu menahan masuknya makanan dan minuman. Sebagian dari kita sangat gembira ketika waktu maghrib tiba dan sangat berat menghadapi waktu subuh. Di awal Ramadhan, kita bisa rajin ke masjid, tetapi di akhir Ramadhan jangankan ke masjid, untuk bangun sahur saja berat rasanya dan berharap semoga bulan puasa segera berakhir. Jangan I’tikaf, untuk membiasakan membaca Al-Qur’an saja berat rasanya. Mungkin ada yang berargumentasi, baca Qur-an, tarawih, I’tikaf itukan semua sunnah, bukannya wajib, yang penting kan puasa. Argumen itu ga ada yang salah, tetapi apakah kita yakin puasa kita yang wajib itu sudah benar? Amalan sunnah bisa dijadikan “tambalan” kalau amalan wajib kita bolong-bolong atau belum sempurna, nah… kalau kita tidak mengamalkan yang sunnah, lalu kita menambal dengan apa? Akhirnya ketika Idul Fitri tiba, ucapan “hari kemenangan” menjadi semu. Ucapan “hari kemenangan” hanya jadi penghias sms dan kartu lebaran. Menang dari apa? Kalau cuma menang dari lapar dan haus mungkin saja, tetapi kemenangan dari lapar dan haus bukan cuma monopoli orang yang berpuasa, orang miskinpun setiap hari selama setahun berhasil menahan lapar dan haus. Justru kemenangan yang hakiki sering kita lewatkan, yaitu kemenangan sebagai orang yang bertaqwa. Bukankah perintah untuk berpuasa Ramadhan itu ujung-ujungnya agar kita menjadi orang yang bertaqwa? Apakah setelah Ramadhan kita berhasil memperoleh derajat taqwa? Orang yang berhasil memperoleh derajat taqwa, dia akan meninggalkan prilaku buruknya terdahulu, setidaknya perlahan-lahan berusaha meninggalkan prilaku buruk untuk selanjutnya tahun demi tahun menghilangkan sama sekali prilaku buruk dalam dirinya.

 

Akhirnya, marilah kita hisab diri kita masing-masing….bagaimana ramadhan kita tahun ini. Apakah kita pantas merasa “menang” pada Idul Fitri ini? Wallahu ‘alam bishshowab

 

One thought on “Ramadhan dan Idul Fitri, Mencari Kemenangan Hakiki (sebuah renungan di bulan Syawal)

  1. hihihi, comment ah,

    Di belanda, walaupun disini idul fitri dikenal juga sebagai “suiker fest” (sugar festive atau festival manis/gula karena orang turki dan marroco yang migran ke belanda membawa tradisi memasak kue kue manis setiap lebaran), idul fitri berjalan selayaknya hari biasa dan tanpa keramaian sama sekali :). Padahal selayaknya yang namanya festival, walaupun di negara yang cinta ketenangan seperti belanda, festival berarti keramaian. Mungkin jumlah muslim terlalu sedikit sehingga keramaian di hari idul fitri sama sekali tidak terlihat. Sekolah tetap sekolah, kerja tetap kerja, dan tidak ada suara takbir sama sekali terdengar, walaupun sayup sayup, sehingga anak2 muslim Indonesia yang kangen suara takbir streaming sendiri dari internet.

    Setuju keramaian yang terlalu ramai, memang mengganggu lingkungan, tetapi lebaran yang terlalu sepi jg gimanaaaaaa gitu, 😉

    ======
    Nancy, apa kabar? pasti kangen sama ketupat & rendang padang yaa? Bicara soal keramaian di hari lebaran, memang benar bahwa lebaran itu “harus” ramai, kan namanya juga pesta kemenangan. Namun, jangan sampai keramaian tersebut menghapuskan kerih payah kita di bulan Ramadhan. Toh, kalau kita benar-benar mau bertakbir (supaya ga sepiii…)kita bisa datang ke masjid beramani-ramai, ajak seluruh keluarga ke masjid di malam takbiran …& jangan lupa bawa ketupat dan opor ayam. Kalau cape takbir, makan ketupat dulu, terus takbir lagi. kalau takbirnya model gitu, Insya Allah ga ada yang kebut-kebutan, ga ada yang teriak-teriak pakai TOA sampai jam 3 pagi (buat apa teriak-teriak yaa..kan semua orang ngumpul di masjid..he..he..he). Oke Nancy, thx atas comment-nya yang sangat bangus, selamat Idul Fitri, Taqobballallahu minna wa minkum..

    Thx
    Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s