AKKBB dan Sikap Provokatif

Sangat memperihatinkan. Itulah kata-kata yang cocok untuk mengomentari kejadian bentrokan 25 September 2008 antara FPI dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) saat diadakannya persidangan di PN Jakarta Pusat. Peristiwa bentrokan tersebut mengingatkan kita akan sepak terjang AKKBB pada tanggal 1 Juni 2008 lalu di Monas. Peristiwa 1 Juni 2008 lalu tidak perlu terjadi jika orang-orang AKKBB mau berjiwa besar dengan cara menghindari wilayah yang saat itu sedang berkumpul massa FPI. Belum hilang ingatan akan peristiwa Monas, ternyata orang-orang AKKBB tidak belajar dari pengalaman. Kehadiran Banser Gus Nuril yang dibawa oleh AKKBB dapat dianggap sebagai tindakan provokatif. Terlepas dari ada atau tidaknya niat untuk memprovokasi, seseorang harus mempertimbangkan terlebih dahulu tindakan yang akan dilakukan, apakah akan berdampak pada orang lain atau tidak?. Kenapa harus bawa Banser? kalau orang AKKBB takut dengan intimidasi FPI, seharusnya mereka minta perlindungan polisi. Saya yakin jika diminta secara khusus, polisi akan bersedia mengawal para saksi dari AKKBB untuk bersidang. Pengawalan AKKBB oleh Banser adalah tindakan provokatif dan tidak mencerminkan kecerdasan orang-orang AKKBB yang konon menjunjung tinggi hukum di NKRI. Jika AKKBB menghormati lembaga Polri, kenapa AKBB tidak meminta bantuan Polri?

Salah satu tokoh AKBB, yaitu Guntur Romli seharusnya menyadari bahwa membawa Banser sama saja dengan mengundang keributan. Bukankah Guntur lama kuliah di luar negeri ?, setidaknya punya pemikiran yang lebih cerdas dalam menilai situasi. Saya ingat, kecerdasan Guntur melampaui para ulama dalam menelaah masalah Al-Qur’an. Dalam tulisannya di Tempo yang berjudul “Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah”, Guntur menyebutkan bahwa Al-Qur’an merupakan karya bersama Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Pada tulisan yang sama Guntur juga menyebutkan bahwa pandangan Nabi Muhammad tentang Nabi Isa dipengaruhi oleh pandangan Kristen. Alhamdulillah, pendapat Guntur yang ngawur tersebut segera dibantah oleh seorang yang cerdas yaitu Henry Salahuddin, MA dalam tulisannya yang berjudul “Rasionalisasi Menghujat Al-Qur’an”.

Peradilan terhadap tokoh FPI masih berlangsung, tentunya diharapkan tidak terjadi kericuhan. AKBB pun sepatutnya mampu menahan diri dan menyerahkan proses hukum dan keamanan pada lembaga resmi. Polri adalah bagian dari negara yang secara sah bertugas menjaga keamanan, bukan Banser atau laskar-laskar lainnya. Apa jadinya negeri ini jika setiap ormas bertindak sebagai petugas keamanan. Mau dikemanakan hukum kita? Sekarang, apakah AKKBB masih percaya pada Polri atau Banser?

3 thoughts on “AKKBB dan Sikap Provokatif

  1. malem om
    gue sih akur ma om..
    dah jadi rahasia umum sih kalo ada oknum tingkat tinggi di top evel yang emang menciptakan situasi ini untuk kepentingan tertentu??

    abis sudah “budaya” didunia politik sih..
    asas saling memanfaatkan…

    piss mas

  2. “Apa jadinya negeri ini jika setiap ormas bertindak sebagai petugas keamanan. Mau dikemanakan hukum kita? Sekarang, apakah AKKBB masih percaya pada Polri atau Banser?”

    malah jadi bingung nih mas…
    bukannya FPI juga terlebih dahulu yang jadi lebih Polisi dari Polisi?

    hi hi hi
    gue non blok kok.

    =======
    Iya Mba..eh Mas..(maaf kalau salah yaa, abis alamat emailnya “danti” tapi namanya “boy”). Memang bingung kalau lihat sepak terjang ormas di negeri ini, semua ingin jadi polisi. Baik FPI, AKKBB atau ormas apapun, ga punya hak untuk melakukan tindakan yang menjadi lahannya polisi. Masalahnya adalah, kadang polisi kita yang ga tanggap atas masalah sosial di masyarakat, sehingga ormas turun tangan. Ormas yang mengatasnamakan Islam juga kadang bisa terjebak pada pemahaman yang salah tentang menghalau kemunkaran. Kalau menurut ulama, Syaikh Bin Baz, mengatasi kemunkaran dengan tangan itu ga bisa dilakukan oleh setiap orang, tapi dilakukan oleh orang yang memang mempunyai kewenangan. Yang ingin saya katakan dalam tulisan saya itu adalah, terlepas siapa yang memulai, maka pihak lain juga tidak layak untuk “membalas”. Jika FPI dianggap sebagai pihak yang memulai terjadinya serangan Monas, bukan berarti AKKBB layak melakukan tindakan yang provokatif pada peristiwa 25 Sept 08. Dibutuhkan jiwa besar bagi semua pihak. Untuk mencegah ormas bertindak sebagai polisi, maka Polisi (Polri) harus bangun dari tidurnya, laksanakan semua perintah UU tanpa pandang bulu….gitu.loohhh!

    Thx
    Ismail Marzuki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s