Antara Merokok dan (maaf) Kentut. Sebuah perbandingan sederhana tentang rasa malu dan adab.

Bagi para perokok, silakan anda nikmati sendiri rokok anda sebanyak-banyaknya ditempat khusus dan tertutup, jangan sebarkan racun ke tubuh orang lain…!

Pada saat ini merokok sudah bukan lagi kegiatan sampingan disela-sela mengisi waktu luang. Merokok bahkan menjadi “ritual” tersendiri bagi seseorang disamping kegiatan lainnya. Disebut ritual, karena sering kita dengar jika seorang perokok baru selesai makan, maka kegiatan lanjutannya adalah merokok. Bahkan tidak afdhol rasanya kalau tidak merokok setelah selesai makan.

Banyak sudah ulasan para pakar kesehatan yang mengungkapkan bahaya merokok. Terlepas dari pro-kontra soal hukum merokok menurut syariat Islam, kiranya para perokok perlu memikirkan kembali dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari rokok. Dari segi kesopanan dan adab, orang yang merokok ditempat umum dimana ada orang lain disekitarnya, termasuk dalam kategori orang yang tidak beradab dan tidak memiliki rasa kesopanan. Semua orang tahu, rokok itu berbahaya, dan bagi yang tidak merokok tentunya tidak peduli jika sang perokok merokok sendirian di ruang khusus yang tertutup. Masalahnya justru timbul ketika sang perokok merokok di tempat umum. Dengan sengaja, sang perokok menyebarkan bibit penyakit ke sekelilingnya, belum lagi jika sang perokok mengidap penyakit TBC..wah..tambah bahaya asap yang dikeluarkannya.

Mari kita sedikit membandingkan, mana yang lebih berbahaya, menghirup aroma kentut orang lain atau menghirup asap rokok hasil pembuangan dari tubuh perokok? Entah, mungkin karena belum pernah ada yang meneliti, tetapi sejauh ini belum pernah ada berita yang menyebutkan bahwa aroma atau asap kentut bisa membuat orang sakit. Tidak pernah juga ada himbauan atau larangan yang menyebutkan bahwa “Kentut Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan kehamilan dan janin”. Justru pada rokoklah pesan-pesan larangan tersebut muncul. Nah, ketika seseorang berniat kentut, dia pasti berusaha mencari tempat ‘aman” agar proses pelepasan kentut tidak diketahui orang lain. Sebab, sungguh malunya minta ampun jika ada orang yang nekat kentut di depan orang lain, apalagi jika kentutnya beraroma tidak sedap. Kenapa kentut di depan umum malu, bukankah kentut itu proses alamiah dari tubuh? Bukankah kentut itu tidak berbahaya? Mengapa demi menutupi rasa malunya sendiri, seseorang ga berani kentut di tempat umum? Di sisi lain, orang dengan seenaknya merokok di tempat umum tanpa malu-malu, padahal rokok menimbulkan racun dan berbahaya bagi orang lain.

Bagi perokok, mohon maaf jika anda kurang berkenan dengan tulisan ini. Toh kami yang bukan perokok setiap hari sudah memaafkan anda yang biasa merokok di tempat umum.

Ismail Marzuki

One thought on “Antara Merokok dan (maaf) Kentut. Sebuah perbandingan sederhana tentang rasa malu dan adab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s